SKRIPSI PRAKTIK HEDONISME DALAM SURAH AL-TAKĀṠUR PERSPEKTIF BINTUSY SYATHI’ DALAM AL-TAFSĬR AL-BAYĀNĬ LI AL-QUR’ĀN AL-KARĬM
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN..................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................
iii
MOTTO
PEDOMAN TRANSILTERASI ARAB
KATA PENGANTAR...................................................................................
ABSTARK
DAFTAR ISI..................................................................................................
BAB I: PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang .................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................. 7
C.
Tujuan Penelitian.................................................................................. 7
D.
Kegunaan Penelitian............................................................................. 7
E.
Definisi Istilah...................................................................................... 7
F.
Kajian Penelitian Terdahulu................................................................. 9
H.
Kajian Pustaka...................................................................................... 14
BAB II: METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian dan Pendekatan........................................................... 19
B.
Pembatasan Kajian ............................................................................... 19
C.
Sumber Data......................................................................................... 19
D.
Teknik Pengumpulan Data.................................................................... 20
E.
Analisis Data......................................................................................... 20
F.
Pengecekan Keabsahan Data................................................................ 21
BAB III: KAJIAN TEORITIS SEMANTIK AL-QUR’AN DAN BIOGRAFI BINTUSY
SYATHI’
A.
Semantik: Pengertian Dan Konsep
B.
Biogarafi Aisyah Bintusy Syathi’
1.
Biografi
2.
Riwayat Pendidikan
3.
Perjalanan Karir Bintusy Syathi’
4.
Karya-karya Bintusy Syathi’
C.
Kajian Kitab
1.
Profil Kitab
2.
Latar Belakang
3.
Metode
4.
Sumber
BAB IV: PRAKTEK HEDONISME
A.
Hakikat Hedonisme
B.
Penafsiran Bintusy Syathi’
C.
Pandangan Bintusy Syathi’
BAB V: PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
RIWAYAT HIDUP
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kehidupan dunia
senantiasa berputar dan silih berganti. Tidak akan selamanya seorang manusia selalu
merasakan kesenangan, kebahagiaan dan kesedeihan ketika di dunia. Seseorang tentunya
akan mengalami perubahan, pergantian, pergerakan hidup dan kehidupan menjadi
kenyataan. Semua perubahan dan perputaran itu menjadi media untuk mengasah
ketajamaan rasa dan menyempurnakan jiwa manusia.[1] Harusnya
seseorang sadar akan kehidupan dunia yang dimiliki saat ini, itu hanya menjadi
titipan tidak akan pernah kekal untuk dimiliki selamanya.
Manusia ini relatif
berubah dalam kehidupannya dan apa yang terjadi pada manusia sifatnya seketika,
tidak abadi. Hal tersebut dapat kita
lihat dalam kehidupan bahwa ada manusia yang sewaktu-waktu kaya dalam waktu
sekejap dan bisa jadi miskin, ada yang sakit dan masih bisa sehat kembali,
bahkan ada yang sehat menjadi sakit. Kecuali orang yang telah mati, akan hidup
kembali nantinya di padang Mahsyar tempat berkumpunya semua makhluk dari
pertama hingga makhluk yang terkahir hidup. Sakit dan kematian Itu semua tidak
ada yang mengetahui kecuali Allah.[2] Oleh
sebab itu, kebahagian tidak selalu datang dari bentuk kemewahan. Tetapi dengan kesederhanaan
yang akan membawa pada ketenangan dan kebahagian yang hakiki. Sangat sulit
menemukaan kondisi manusia yang benar-benar mutlak tidak berubah ketika hidup
di dunia. Pasti semua manusia akan mengalami perubahan didalam hidupnya. Semua
manusia tidak akan terhindar dari yang namanya kematian, ujian hidup. Artinya
sekalipun manusia dalam kehidupannya selalu dalam keadaan bahagia, kekayaannya
melimpah tetap bertahan sampai tujuh turunan dan apapun yang diinginkan
cepat terwujud. Akan tetapi tetap juga
tidak akan bisa menghindari yang namanya
kematian yang tidak tahu kapan tiba waktunya.[3]
Kebiasaan dan gaya kehidupan seseorang cepat sekali berubah, saat
ini seseorang cenderung memiliki pola hidup yang selalu mengikuti arus
perkembangan zaman, yang mana semakin modern dan teknologi yang semakin canggih
dalam perkembangannya. Akibat dari itu semua, akan berdampak terhadap gaya
hidup yang dijalani seseorang cenderung mudah dalam melakukan segala hal dan
mengarah pada kebiasaan hidup bersenang-senang, menghamburkan uang, mengikuti
hawa nafsu dan hanya menghabiskan waktu dengan mencari kebahagian.
Hedonisme merupakan pandangan
hidup yang beranggapan bahwa orang akan menjadi bahagia dengan memilih kebahagian
sebanyak mungkin dan sedapat mungkin untuk menjauhi perasaan yang sekiranya menyakitkan
dalam hidupnya.[4]
Dampak yang diakibatkan dari perbuatan hedonisme adalah menjadi individualisme,
yaitu seseorang yang memiliki perilaku dan gaya hidup hedonisme cenderung
individualis, atau juga beran ggapan kebahagiaan diri sendiri lebih penting
dari orang lain. Sedangkan konsumtif adalah kebiasaan membeli barang-barang
yang sebenarnya tidak dibutuhkan adalah salah satu dampak dari perbuatan
hedonisme.[5]
Seseorang yang memiliki gaya hidup hedonisme disebabkan oleh
rendahnya akhlak dalam dirinya, sehingga yang tertanam dalam diri mereka hanya sifat
angkuh dan seenaknya sendiri, merasa lebih dari
segalanya sehingga orang lain tampak kecil dalam pandangan mereka.
Mereka lebih mementingkan kehidupannya sendiri tanpa memperdulikan peristiwa yang
terjadi disekitarnya maupun ditengah masyarakat. Inilah salah satu dampak dari
perbuatan hedonisme sehingga mengurangi sikap kepekaan dan sikap peduli
terhadap sesama.[6]
Padahal kehidupan yang seperti itu akan menuju kepada lembah kehancuran, yang
nantinya akan melahirkan kesombongan dengan apa yang mereka miliki. Bagi
sebagian orang, gaya hidup merupakan suatu hal yang penting karena mereka
beranggapan sebagai sebuah bentuk dari tampang kebahagiaan.[7]
Firman Allah dalam surah al-Takāṡur,
salah satu surah yang menjadi pengingat terhadap manusia agar tidak lalai dengan
kehidupan di dunia. Realitasnya sebagian manusia hanya mengejar bentuk kebahagian
dunia, tanpa memikirkan kehidupan di akhirat nantinya akan seperti apa. Apa
yang dilakukan di dunia akan ada akibatnya, meskipun mengejar bentuk kebahagian
adalah suatu hal yang wajir bagi manusia, tetapi harus dibatasi tidak semuanya
harus dipenuhin, mengikuti poris kebahagiaan orang lain, memaksakan diri seperti kebahagian orang lain karena
setiap orang akan merasa bahagia apabila selalu mensyukuri apa mereka miliki. Untuk itu dua ayat diawal dalam surah surah
al-Takāṡur sebagai bentuk peringatan.
ãNä39ygø9r& ãèO%s3G9$# ÇÊÈ 4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam
kubur. [8]
Ayat di atas ini, memberikan gambaran tentang: Bagaimana seseorang
bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengkat, kemuliaan, dan
seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk
hidup untuk manusia menuju kebahagiaan. Kebahagiaan hanya bisa dapat dan
dirasakan ketika manusia benar-benar memahami dan mampu menjalankan perannya
sebagai manusia. Tentunya peran manusia salah satunya ialah dengan berbuat taat
terhadap perintah-Nya. Allah telah menegaskan bahwa tujuan manusia diciptakan
oleh Allah adalah untuk beribadah terhadap Allah. Pentingnya dari ibadah, pada
dasarnya adalah sebuah bentuk penghambaan kepada Allah sebagai zat yang maha
kuasa yang telah memberikan banyak sekali kenikmatan terhadap manusia.[9]
Oleh karena itu kita sebagai manusia senatiasa harus selalu mensyukuri segala
bentuk kenikmatan yang telah Allah berikan dalam keadaan apapun.
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang akan selalu relevan sepanjang
masa, bagi kehidupan umat manusia.[10] Allah
turunkan Al-Qur’an sebagai kitab yang menjadi pedoman manusia agar selamat di
akhirat, sekaligus sebagai petunjuk kehidupan manusia, bukan kitab ilmu
pengetahuan. Seandainya Al-Qur’an hanya mengandung petunjuk akhirat semata,
maka hal ini telah cukup. Namun, Allah dengan hikmah-Nya menjadikan Al-Qur’an
sesuai dengan apa yang menjadi kehendak dan sesuai dengan apa yang di
firmankan. Di antara ahli ilmu ada yang menyebutkan bahwa sebenarnya seluruh
Al-Qur’an berbicara masalah akhirat. Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang
menyingung tentang ilmu pengetahuan, Dari
situ Allah sengaja menyinggung bukan semata untuk tujuan itu tetapi untuk bahan
renungan manusia agar manusia percaya akan adanya hari kebangkitan, percaya
akan datangnya kematian, percaya akan adanya hari pemabalasan, amal baik dan
buruk percaya akan kemaha kuasaan Allah. Al-Qur’an memang berbicara tentang semua
hal tetapi tidak semua hal itu dinamakan
Al-Qur’an.[11]
Manusia
yang hatinya jernih dan akal pikirannya bersih telah mengetahui bahwa mereka
akan menerima imbalan atas apa yang telah mereka perbuat, dan akan memetik
hasil atas apa yang telah mereka tanam dari perbuatannya ketika hidup di dunia,
sebagai mana mereka berbuat maka mereka pun menerima balasannya. Sehingga amal
perbuatan yang pernah dilakukan di dunia akan mengikuti pelakunya, begitupun
sebaliknya.[12]
Dalam buku yang berjudul “Bekal Menuju Akhirat” Abdullah Al-Haddad yang
diterjemahkan oleh Amiruallah Syarbini menjelaskan
bahwa apa pun yang telah diperbuat di dunia akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat, perbuatan yang baik
hasilnya akan baik pula. [13] Ketika
seorang hamba taat kepada Tuhan-Nya dan mengerjakan amal shalih, maka amal
shalehnya juga akan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.[14]
Begitu pula sebaliknya, apabila seorang hamba melakukan amal buruk, tentunya
amal buruk tersebut akan menemaninya kelak di hari akhirat dan menjadi saksi
dari perbutan selama hidup di dunia, sehingga sangat diharapkan di akhirat
kelak adalah akan bantuan amal ihsan.[15]
Dunia dan akhirat bisa dibedakan, akan tetapi keduanya tidak dapat
dipisahkan. Dunia adalah kehidupan yang dapat dijumpai seperti sekarang ini,
dan dijalani, sedangkan akhirat kehidupan yang tersembunyi dan tidak seorangpun
mengetahui bagaimana kehidupan akhiratnya. Keduanya merupakan satu kesatuan
yang terpadu. Dunia bagian awal, sedangkan akhirat bagian akhir. Dunia adalah kehidupan yang dijalani dan akhirat itu kehidupannya akan dijalani
sesudah melewati kematian. Kematian adalah pintu yang menghubungkan dunia dan
akhirat tanpa melewati pintu kematian, seseorang tidak akan mengetahui
kehidupan akhiratnya. Oleh karena itu, setiap manusia pada hakikatnya berada
dalam antrian menuju pintu kematian. Sedangkan kematian masih menjadi misteri,
kita tidak dapat mengetahui kapan kematian akan tiba. Yang pasti bahwa manusia
akan mati, tetapi mengalaminya merupakan rahasia Allah, tidak ada satupun manusia
yang mengetahui kapan waktunya. [16]
Mesti diingat manusia tidaklah diciptakan
untuk sekedar hidup dan kemudian mati tanpa
ada tujuan apapun, pastinya ada pembalasan terhadap amal. Manusia tidak
hanya diciptakan untuk sekedar memenuhi hawa nafsunya dan keinginan syahwat
belaka. Allah tidak menyuruh manusia untuk memperkaya diri, membangakan diri,
berlebih-lebihan dalam kehiduan di dunia. Justru dalam Al-Qur’an tepatnya surah
al-Takāṡur Allah mengecam perbuatan manusia yang hanya bermegah-megahan ketika
di dunia.
Surah al-Takāṡur merupakan
surah yang bertemakan tentang kehidupan manusia yang lalai dengan perilakunya
bermegah-megahan (hidup hedonisme). Pada surah al-Takāṡur ini digambarkan
manusia yang lalai terhadap hidupnya dengan bergelimang materi duniawi,
sehingga lupa terhadap dirinya bahwa hidup akan kembali kepada Allah memasuki
kehidupan abadi yaitu di akhirat. Dunia ini pasti
fana dalam waktu yang tidak diketahui
sampai kapan dan sangtlah singkat. Sedangkan kehidupan akhirat dimulai ketika
hari kiamat tiba, dan hanya Allah semata
yang mengetahuinya.[17] Pasti akan tiba waktunya, di mana seseorang sampai
masa hidupnya di dunia dan memasuki alam kubur. [18]
Manusia terkadang sadar, dan dapat
membedakan antara kebaikan dan keburukan, namun karena berbagai hal, sering
kali terbius untuk memenuhi semua dorongan nafsu dan akhirnya memenuhi keinginannya.
Padahal, bagian dari syarat kebahagiaan adalah ketika kita dapat dekat kepada
Allah dan hal ini berarti kita setia
pada ketaatan dan kebaikan.[19] Kebahagiaan
adalah hak setiap orang. Tanpa kebahagiaan, seseorang bisa-bisa menyerah dalam kehidupanya.
Akan tetapi sebagian besar masyarakat cenderung mencari kesenangan dan
kebahagiaan dengan berbagai cara bahkan sampai menghalalkan segala cara
dilakukan. Inilah yang disebut dengan masyarakat hedonisme, lantaran
terus-terusan hanya mencari kebahagian sendiri tanpa pedulikan nasib orang
lain. Seperti yang kita ketahui kemajuan teknologi saat ini semakin pesat membuat
setiap orang melakukan aktifitas lebih mudah dengan adanya kecanggihan
teknologi.
Setiap manusia sudah Allah tentukan rezeki, kematian dan jodoh
sudah ada bagiannya masing-masing, jadi tidak akan tertukar dan setiap orang berbeda
ada yang cukup ada yang dilebihkan rezekinya. Anjuran hidup sederhana, Allah
anjurkan bukan hanya pada mereka yang Allah diberikan kelebihan rezeki, berlaku
juga untuk mereka yang kehidupannya berkecukupan sama-sama diperintahkan
bersikap atau hidup sederhana, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik
untukdirinya dan juga orang lain. Orang yang diberikan kelebihan rezeki (orang
kaya) biasanya mereka lebih cenderung bergaya hidup boros, berebih-lebihan
dalam pengeluaran kebutuhan hidup sehari-hari. Karena Allah tidak menyukai
orang yang suka berlebih-lebihan dalam segala hal, baik itu dalam ucapan,
perbuatan, juga dalam menggunakan rezeki yang Allah titipkan di dunia.[20]
Dalam kaca mata Islam, seseorang dianjurkan untuk mengejar bentuk kebahagiaan di
akhirat, ketimbang kebahagian di dunia, namun diingatkan kembali agar tidak melupakan
nasibnya dalam kehidupan di dunia. Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk
kebahagiaan itu, serta berusaha menghindari penderitaan azab lahir dan batin.[21]
Berdasarkan penjabaran di atas, penelitian ini
akan mengkaji sebuah penafsiran dalam ayat-ayat Al-Qur’an tepatnya dalam surah
al-Takāṡur saja dari ayat 1-4, yang
mana al-Takāṡur semakna dengan kehidupan hedonisme dengan menggunakan kitab tafsir Al-Tafsĭr Al-Bayānĭ Li Al-Qur’ān Al-Karĭm karya Bintusy-Syathi’.
Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan penafsiran Bintusy Syathi’. Adapun
penafsiran dari mufassir yang lain nantinya hanya sebagai data pendukung.
Bagaimana pandangan mufasir lain mengenai hedonisme dalam tafsirannya. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan Al-Tafsĭr
Al-Bayānĭ Li Al-Qur’ān Al-Karĭm karya Bintusy Syathi’ dikarenakan beliau,
dalam melahirkan sebuah tafsir terlebih dahulu mengumpulkan beberapa surah yang
setema, jadi tidak semabarang surah yang beliau tafsirkan. Dari situlah kemudian
diurutkan berdasarkan persitiwa pewahyuan sehingga menurut Bintusy Syathi’
bahwa Al-Qur’an adalah karya sastra tertinggi di banding karya sastra yang lain
seperti puisi. Di dalam Al-Qur’an
khusunya di juz ke-30, memang
benar-benar surah yang setema lalu dikumpulkan dalam tafsirnya di jilid pertama
surah-surahnya berkaitan dengan manusia atau kehidupan sosial manusia. Hedonisme
atau berlebih-lebihan dalam Al-Qur’an
tidak diperbolehkan, hedonisme biasanya terjadi dalam konteks kekayaan, kedudukan dan pangkat yang
dimiliki seseorang.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah peneliti paparkan diawal, maka peneliti dapat mengkontekskan beberapa masalah sebagai
berikut:
1.
Apa hakikat hedonisme dalam surah al-Takāṡur?
2.
Bagaimana penafsiran Bintusy-syathi’ tentang surah al-Takāṡur?
3.
Bagaiamana pandangan Bintusy-syathi’ tentang hedonisme dalam surah
al-Takāṡur?
D. Tujuan Penelitian
Dilihat dari fokus
penelitian di atas, maka penelitian ini bertujuan:
1.
Untuk mengetahui hakikat hedonisme dalam surah al-Takāṡur.
2.
Untuk mengetahui penafsiran Bintusy-syathi’ tentang surah al-Takāṡur.
3.
Untuk mengetahui pandangan Bintusy-syathi’ tentang hedonisme dalam
surah al-Takāṡur.
E. Kegunaan Penelitian
Setelah
melewati beberapa penelitian, dari hasil penelitian ini mempunyai kegunaan
secara praktis. Khususnya di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir kegunaan tersebut
adalah sebagai berikut:
1.
Kegunaan Teoritis
a.
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memperkaya khazanah
keilmuan dalam studi Al-Qur’an terutama
dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
b.
Penelitian ini juga dapat dijadikan gambaran untuk penelitian
selanjutnya, dan sedikit banyak memberikan kontribusi bagi pengemabangan bidang
pengetahuan ilmiah.
2.
Kegunaan Praktis
a.
Menambah keilmuan dan pengetahuan peneliti maupun pembaca tentang
makna yang tersembunyi dibalik surah-surah dalam Al-Qur’an, khususnya surah al-Takāṡur yang menjadi objek pembahasan ini skripsi ini,
sehingga dapat mengetahui dan mentadaburi dari makna yang tersimpan dibalik surah
al-Takāṡur.
b.
Penelitian ini juga dapat dijadikan landasan atau pedoman untuk
memahami pandangan Al-Qur’an mengenai
hedonisme dalam surah al-Takṡāur.
c.
Melalui penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan atau
pegangan dalam memahami hedonisme dari ayat
Al-Qur’an.
F.
Definisi Istilah
Dalam
penelitian ini, peneliti akan memberikan pengertian terlebih dahulu mengenai istilah yang berkaitan dengan
pembahasan dalam penelitian kali ini. Tujuan adanya pemberian definisi atas
istilah ini penting, mengingat pembaca tidak hanya dari kalangan akademisi.
Melainkan ada kalangan dari orang awam juga membaca atau mendengar hasil
penelitian ini. Hal ini dimaksudkan agar pembaca lebih mudah memahami dari
hasil penelitian dengan mudah untuk dipahami. Pemberian definisi ini juga untuk
menghindari adanya kerancuan nantinya dalam
memahami judul dan isi dari pembahasan. Maka perlu adanya urain definisi istilah sebagai berikut:
1.
Hedonisme
Hedonisme adalah seseorang yang menganggap bahwa kesenangan di
dunia sebagai tujuan dalam kehidupannya. Terutama untuk dirinya sendiri tanpa peduli terhadap orang sekitar, dan
menghindari perasaan-perasaan yang sekiranya menyakitkan terhadap dirinya. Di
mana orang-orang yang hidupnya hedonisme tidak pandai bersyukur atas segala
kenikmatan yang telah didapat di dunia sehingga timbul rasa kekurangan atau
tidak pernah merasa cukup dengan nikmat yang Allah berikan. Oleh karena itu
orang-orang yang hidup hedonisme lebih mengedepankan hawa nafsu sehingga
menggunakan hartanya untuk hal-hal yang sifatnya sementara tidak manfaat dan
sia-sia.
Perbuatan hedonisme cenderung meniti beratkan bagi jasmani
ketimbang rohani berupaya kesenangan sementara yaitu kepuasan duniawi. Cinta
terhadap dunia beserta segala kemewahan yang tampak pancaindra manusia.
2.
Surah Al-Takāṡur
Surah al-Takṡāur merupakan surah yang ke-102 dalam urutan penulisan mushaf dalam Al-Qur’an.
Surah al-Takāṡur ini diturunkan sesudah surah al-Kauṡar dan surah al-Takṡāur terdiri dari
8 ayat. Surah al-Takṡāur bertemakan bermegah-megahan dan kecaman terhadap mereka yang
dilengahkan oleh gemerlap duniawi dan kebanggan terhadap sesuatu yang fana. Diambil
dari kata pertama yakni saling memperbanyak atau bermegah-megahan ketika di
dunia, sehingga menyebabkan dirinya melalaikan dari tujuan hidup yaitu taat
kepada Allah Swt.
3.
Al-Tafsĭr Al-Bayānĭ Li Al-Qur’ān Al-Karĭm
Kitab Al-Tafsĭr Al-Bayānĭ Li Al-Qur’ān Al-Karĭm merupakan karya magnum opus dari Bintusy Syathi’
dalam bidang tafsir yang menjadi perhatian peminat studi Al-Qur’an, baik dari
Timur maupun dari Barat peminatnya. Bintusy Syathi dalam tafsirnya menggunakan
pendekatan sastra dan menafsirkan ayat berdasarkan urutan kronologisnya dan
tidak hanya terpacu pada urutan ayat dan surah dalam Al-Qur’an. Dengan
menggunakan metode adabi sebagai analisa teks yang megungkapkan segi sastra
yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir ini memiliki dua jilid kitab tafsir, masing-masing terdiri dari 7
surah, dengan demikian kitab tafsirnya hanya berisikan 14 surah pendek dan dari ke-14
surah ini, dikategorikan sebagai surah-surah makkiyah (pra hijrah), yang diambil dari juz ke 30 dari Al-Qur’an.
Kitab Al-Tafsĭr Al-Bayānĭ Li Al-Qur’ānAl-Karĭm jilid pertama telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia oleh Mudzakkir Abdussalam dengan judul “Tafsir
Bintusy Syathi”.
Bintusy Syathi’ dalam menulis tafsirnya Al-Tafsĭr
Al-Bayānĭ Li Al-Qur’ān Al-Karĭm ia mendasarkan penafsirannya pada metode
yang dirintis oleh guru dan segakaligus suaminya, yaitu Prof Amin Al-Khuli.
G. Kajian
Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang hedonisme dalam surah al-Takāṡur yang menjadi
fokus peneliti, dan ini bukanlah penelitian yang baru atau pertama kali
dilakukan. Akan tetapi terdapat beberapa penelitian yang dilakukan oleh
peneliti sebelumnya, baik itu berbentuk karya ilmiah, artikel, skripsi atau
disertasi dalam bentuk buku, sehingga penelitian ini mengembangkan teori yang
ada, bukan menghasilkan teori yang baru.
1. Skripsi yang ditulis oleh Muhammad Husni Mubarok, dengan judul “Qana’ah Sebagai Cara Mencegah
Perilaku Hedonisme (Perspektif Hamka)”. Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam
Walisongo Semarang”, skripsi ini sudah dilakukan pada tahun 2018.[22] Fokus pada Skripsi ini
pembahasannya memahami qana’ah dalam perspektif Hamka menurutnya ingin memberitahukan bahwa dengan merasa cukup dan
tidak lupa untuk bersyukur maka semua kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan yang
ditawarkan dunia saat ini tidak akan berarti apa-apa. Qana’ah tidak melarang untuk mencari harta sebanyak mungkin asalkan tidak menghilangkan ketentraman hati, karena qana’ah merupakan tiang kekayaan sejati dan kegelisahan ialah
kemiskinan yang sebenarnya. Untuk itu perbuatan seperti matrealistis, konsumtif, maupun hedonisme
dapat dikurangi, dengan qana’ah atau selalu
merasa cukup. Dalam skripsi ini banyak merujuk kepada beberapa
karya Buya Hamka, seperti kitab tafsir Al-Azhar.
2. Skripsi yang ditulis oleh Syuratul Yatimah, Dengan judul “Hedonisme
Dalam Al-Qur’an Analisis Terhadap Pandangan Quraish Shihab Atas Surah
At-Takasur”. Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri
Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.[23] Penelitian
ini sudah dilakukan pada tahun 2019 dengan menggunakan metode penelitian yang
bersifat kepustakaan (library research) dengan deskriptif kualitatif.
Syuratul Yatimah menyebutkan dalam skpripsinya sekitar delapan surah di dalam
Al-Qur’an yang membicarakan tentang hedonisme. Dengan merujuk pada kitab tafsir
Al-Misbah karya Quraish Shihab sebagai data primernya, karena beliau dalam
menafsirkan surah at-Takasur mengaitakan dengan ayat lain yang berkaitan dengan
hedonisme. Menurtnya karena pada
masing-masing ayat menyebutkan bahwa manusia dilalaikan dalam urusan duniawi seperti
mengumupulkan harta, padahal semua itu akan ditinggalkan, maka kemegahan
tersebut tidak akan ada akhirnya kecuali setelah menemui kematian.
3.
Skripsi yang ditulis oleh Annisa Nabila Zulfa,
dengan judul “Pandangan Al-Qur’an Terhadap Gaya Hidup Hedonisme (Studi Analisis
Kitab Risalah an-Nur Karya Badi’ az-Zaman Sa’id an-Nursi), Fakultas Ushuluddin
Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Penelitian skripsi ini sudah di lakukan pada tahun
2020.[24] Annisa dalam skripsinya membatasi ayat dengan
fokus kepada ayat QS. al-Arāf [7]:31, QS. al-Kahfi [18]:7, QS. al-An’ām [6]:32
dan Qs. al-Hadῑd [57]:20. Gaya
hidup menurut Nursi adalah gaya hidup yang berlebihan dalam hal kecintaan
terhadap dunia yang terlihat sangat indah dan dapat dirasakan oleh indra, baik
dari segi harta, makanan dan minuman. Dengan adanya kecintaan yang berlebih
akan menjadikan dunia sebagai tempat bermain dan bersenang-senang. Padahal hal
tersebut bertentangan dengan prinsip hidup yang sudah Allah tetapkan yaitu
hidup secara sederhana dan berkecukupan.
4.
Jurnal yang ditulis Ranti Tria Anggraini dan Fauzan Heru Santoso,
dengan judul “Hubungan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku konsumtif pada
remaja”.[25]
Dalam jurnalnya, Ranti dan Fauzan menggunakan
uji hepotesis pada penelitiannya menggunakan teknik korelasi untuk mengetahui
hubungan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku konsumtif. Berdasarkan hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan
positif antara gaya hidup hedonisme dengan perilaku konsumtif pada remaja.
Oleh karena itu, remaja tetap disarankan untuk menghindari pola hidup yang
berlebihan agar tidak terjerumus dalam perilaku konsumtif, dan yang nantinya
akan menjadikan hedonisme.
Untuk lebih memudahkan pembaca dalam melihat perbedaan penelitian
terdahulu dengan penelitian penulis cermatilah tabel berikut ini:
|
BNo |
Peneliti |
Persamaan |
Perbedaan |
|
|
1.
111 |
Muhammad Husni Mubarok Qana’ah Sebagai Cara Mencegah Perilaku Hedonisme (Perspektif Hamka) |
Persamaan skripsi
ini dengan skripsi peneliti sama-sama menggunakan jenis penelitian
kepustakaan (Library Research). Pembahasannya meliputi seseorang yang
diharapkan tidak berperilaku hedonisme. Maksudnya menerima apa yang telah
dianugerahkan Allah kepada-Nya. Karena perilaku qana’ah begitu penting
sekali untuk diaplikasikan bagi karakter seseorang, agar dijauhkan dari
kehidupan hedonisme. |
Perbedaan penelitian ini dengan peneliti yang lakukan terletak pada sumber data primer yang
pertama tentang qana’ah yaitu beberapa karya-karya dari Hamka, seperti
Tasawuf Modern, Tafsir Al-Azhar dan lembaga Hidup, Perkembangan
Tasawuf dan Pemurniannya, selanjutnya Buku Ihya’ Ulumuddin
karangan Imam Al-Ghazali, kebanyakan merujuk ke buku. Sedangkan peneliti data primernya hanya kitab tafsir. |
|
|
2 |
Syuratul Yatimah Hedonisme Dalam Al-Qur’an Analisis
Terhadap Quraish Shihab Atas Surah
At-Takasur |
Persamaan skripsi
ini dengan skripsi peneliti sama-sama membahas
hedonisme atas surah al-Takṡāur. |
Perbedaan penelitian disini ialah menggunakan pendekatan analisis pemahaman. Sedangkan
pendekatan yang digunakan ialah pendekatan semantik Toshihiko Izutsu, mencoba
menganalisa pendapat Toshihiko dalam
bukunya dan dikaitkan dengan pendapatnya
Bintusy Syathi’. Dan kitab yang
digunakan. |
|
|
3 |
Annisa Nabila Zulfa Pandangan Al-Qur’an Terhadap Gaya
Hidup Hedonisme (Studi Analisis Kitab Risalah An-Nur Karya Badi’ az-Zaman
Sa’id an-Nursi) |
Persamaan skripsi
ini dengan skripsi peneliti sama-sama membahas
hedonisme dalam pandangan
Al-Qur’an. |
Perbedaan pertama penelitian ini dengan peneliti yang lakukan terletak
pada kitab tafsir yang diteliti mengenai gaya hidup hedonisme dalam
pandangan Sa’id Nursi. Kedua tidak
membatasi ayat yang berhubungan dengan hedonisme. Sedangkan penelitian ini
hanya memfokuskan pada surah al-Takṡāur. |
|
|
4 |
Ranti Tria Anggraini dan Fauzan
Heru Hubungan Antara Gaya Hidup
Hedonisme Dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja |
Persamaan skripsi
ini dengan skripsi peneliti sama-sama membahas
hedonisme yang melanda
dikalangan masyarakat, salah satunya kehidupan hedonisme dengan perilaku
konsumtif yang terjadi pada remaja. |
Metode yang digunakan juga berbeda, penelitian Ranti dan Fauzan
menggunakan metode kuantitatif, yang mana terdapat dua variabel yaitu
perilaku konsumtif sebagai variabel dependen, dan gaya hidup hedonis sebagai
gaya hidup independen. Sedangan penelitian ini menggunakan metode kajian
pustaka dengan mengumpulkan buku-buku literatur. |
|
Beberapa penelitian terdahulu dengan penelitian penulis memiliki
perbedaan yang sangat mencolok.
Perbedaannya terdapat pada metode yang digunakan, penulis menggunakan metode
tematik surah dengan memfokuskan pada salah satu mufassir asal Mesir yakni
bernama Bintusy Syathi’. Dalam penelitian ini, ayat 1-4 dalam surah al-Takṡāur yang
berkaitan dengan hedonisme akan dibahas
secara mendetail.
[1]
Taufiq Ali Zabady, Buku Saku Rahasia Keberkahan Petunjuk Nabi Meraih Hidup
Lebih Berkah (Jakarta: Zaman, 2005), 9.
[2] Made Nopen Supriadi, Menghadapai
Relativitas Kehidupan (Jakarta: Permata Raflesia, 2020), 2-3.
[3]
Ibid.,3-4.
[4]
Duki Samad, Keluarga Layar Sentuh (Padang: Pab. Publishing, 2020), 16.
[5]
Korry El-Yana, Dijajah Korea (Tangerang: Indigo Media, 2021), 46.
[6]
Hizbullah, Kumpulan Khitobah Pilihan, Tentang Bahayanya Hedonisme
(Pekalongan: Pustaka Amani, 1983), 7.
[7]
Chaney, Life Styles (Terjemahan), Sebuah Pengantar Komprehensif (Yogyakarta: Jalasutra, 1996), 46.
[8]
Muchlas Muhammad Hanafih et al, Al-Qur’an
Dan Terjemahannya Edisi Penyemurnaan (Jakarta: Lajnah pentashihan
Mushaf Al-Qur’an, 2019), 903.
[9]Amiruoallah
Syarbini & Sumantri Jamhari, Kedahsyatan Membaca Al-Qur’an (Bandung:
Ruang Kata Imprint Kawan Pustaka, 2012), 18.
[10]Jazim
Hamidi dkk, Metodologi Tafsir Fazlur Rahman Terhadap Ayat-ayat Hukum &
Sosial, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2013), 1.
[11] Nor
Kandir, Al-Qur’an Sumber Segala Ilmu (Jakarta: Pustaka Al-Madani, 2017), 7.
[12]
Ahmad Yunus Al-Muhdlor, Bekal Menuju Akhirat (Surabaya: Cahaya Ilmu, 2007), 28.
[13]
Ibid,.29.
[14]
Abnu Jauzi, Memuai Taman Syurga (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), 20.
[15]
Kata Ihsan adalah (berbuat baik) ialah kebalikan dari kata al isaa-ah
(berbuatburuk), yaitu tingkah laku seseorang demi melakukan perbuatan
yang baik dan mencegah diri dari perbuatan dosa. Munawwir, Ihsan (Yogyakarta:
Buku Gambus, 2018), 227.
[16]Lanjnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Keniscayaan
Hari Akhir (t.t: 2010),16.
[17]
Istinagatul Ngulawiyah, Bai Rohimah
dan Suaidi, “Peran Islam Dalam Mewujudkan Keselamatan
Hidup Di Dunia Dan Akhirat Dalam Konteks Kehidupan Akhirat,” JAWARA: JurnalPendidikanKarakter
7, No 1 ( Juni, 2021): 64-65, http://core.ac.uk/ .
[18]
Syafaat R. Selamet, Dahsyatnya Al-Ashr Motivasi Dan Inspirasi Kesuksesan
Dunia Akhirat (Jakarta: PT. Gramedia, 2015), 51.
[19]
Haidar Bagir, Islam Risalah Cinta dan Kebahagian (Jakarta Selatan:
PT. Mizan Publika, 2012), 23.
[20]
Habib Syarief Muhammad Alyadrus, Agar
Hidup Selalu Berkah: Meraih Ketentaram Hati Dengan Hidup Penuh Berkah (Bandung:
PT. Mizan Pustaka, 2010), 198.
[21]Khairul
Hamim, Kebahagiaan Dalam Persepektif Al-Qur’an dan Filsafat, 138.
[22] Muhammad
Husni Mubarok, “Qona’ah Sebagai Cara Mencegah Perilaku Hedonisme: Perspektif
Hamka”. (Skripsi Sarjana: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam
Walisongo Semarang, Semarang 2018).
[23]
Syuratul Yatimah, “Hedonisme Dalam Al-Qur’an Analisis Terhadap Pandangan Quraish Shihab Atas Surat At-Takasur”,
(Skripsi Sarjana: Universitas Islam Negri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Jambi,
2019).
[24]
Annisa Nabila Zulfa, “Pandangan Al-Qur’an Terhadap Gaya Hidup: Studi Analisis Kitab Tafsir Risalah an-Nur Karya Badi’ az-Zaman
Sa’id an-Nursi”, (Skripsi Sarjana: Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, Jakarta,
2020).
[25]
Ranti Tria Anggraini dan Fauzan Heru Santoso, Hubungan Antara Gaya Hidup
Hedonis Dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja,Psychlogy: 3, No, 3
(2017). http://media.neliti.com