Trending

MAKALAH INFERTILITAS, GANGGUAN MENSTRUASI DAN HORMON REPLACEMENT THERAPHY


 MAKALAH
INFERTILITAS, GANGGUAN MENSTRUASI DAN HORMON REPLACEMENT THERAPHY


Untuk Mendownload File Makalah ini klik 
Download File Di bawah ini

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Infertilitas adalah suatu kondisi tidak terjadinya  kehamilan pada pasangan yang telah berhubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur dalam waktu satu tahun. Inferitilitas atau kemandulan merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering berkembang menjadi masalah sosial karena pihak wanita selalu dianggap sebagai penyebab. Sebagian besar kasus infertilitas wanita disebabkan oleh masalah ovulasi, tanpa ovulasi tidak ada ser telur yang bisa dibuahi. Beberapa tanda tanda bahwa wanita tidak berovulasi biasanya tidak teratur atau tidak adanya menstruasi.

Wanita normal akan mengalami siklus menstruasi normal secara berkala sehingga perubahan siklus yang tidak normal akan mengganggu seorang wanita terutama pada kondisi diamana haid atau berkencan bulan datang lebih sering. Tidak teratur, terjadi dalam siklus yang lebih lama,lebih pendek dan pada kondisi tertentu wanita bahkan tidak haid sama sekali. pada beberapa kondisi gangguan haid bahkan dapat mengakibatkan nyeri pada beberapa kondisi

1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa definisi dari infertilitas?

2.      Apa saja Klasifikasi dari infertilitas?

3.      Apa Etiologic dari infertilitas?

4.      Apa saja Pemeriksaan dari infertilitas?

5.      Bagaimana Penatalaksanaan infertilitas?

6.      Apa pengertian dari gangguan menstruasi?

7.      Apa saja macam-macam gangguan menstruasi?

8.      Apa pengertian Polimenorea ?

9.      Apa pengertian Oligomenore ?

10.  Apa pengertian Aminorhea ?

11.  Apa Pengertian dari HRT ?

12.  Bagaimana Penggunaan terapi sulih hormone?

13.  Apa saja Kontra indikasi dari HRT ?

14.  Apa saja Efek samping dari HRT?

15.  Bagaimana Petunjuk praktis penggunaan HRT?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Infertilitas

A.    Pengertian Infertilitas

Infertilitas adalah tidak terjadinya kehamilan setelah menikah selama 1 tahun atau lebih dimana pasangan tersebut aktif melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa pemakaian alat kontrasepsi (Wiknjosastro et al, 2011).Menurut Kusmiran (2013) infertilitas diartikan sebagai ketidakmampuan untuk hamil sesudah 12 bulan atau enam bulan pada wanita berusia lebih dari 35 tahun tanpa menggunakan kontrasepsi dan melakukan hubungan seksual secara aktif Infertilitas dalam Kamus Saku Kedokteran Dorland adalah kurangnya atau hilangnya kemampuan menghasilkan keturunan.Satu dari beberapa jenis infertilitas yang dipercaya disebabkan adanya antibodi di dalam tubuh wanita yang mengganggu fungsi sperma. Infertilitas atau ketidaksuburan adalah ketidakmampuan Pasangan Usia Subur (PUS) untuk memperoleh keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur dan benar tanpa usaha pencegahan lebih dari satu tahun (Kumalasari, 2012). Berdasarkan beberapa definisi tentang infertilitas maka dapat disimpulkan bahwa infertilitas adalah ketidakmampuan pasangan suami istri memiliki anak meskipun telah berhubungan seksual rutin.

B.     Klasifikasi infertilitas

Menurut WHO, infertilitas dibedakan atas : 2 (Hestiantoro, 2011)

1.      Infertilitas primer, jika seorang wanita yang telah menikah setidaknya < 12 bulan belum pernah hamil meskipun telah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa perlindungan alat kontrasepsi.

2.      Infertilitas sekunder adalah tidak terdapat kehamilan setelah berusaha dalam waktu 1 tahun atau lebih pada seorang wanita yang telah berkeluarg dengan hubungan seksual secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi, tetapi sebelumnya pernah hamil.

 

C.     Etiologi Infertilitas pada Wanita

  1. Gangguan ovarium yang dapat disebabkan oleh faktor usia, adanya tumor pada indung telur dan gangguan lain yang menyebabkan sel telur tidak dapat matang. Sedangkan gangguan hormonal disebabkan oleh bagian dari otak berasal dari hipotalamus dan hipofisis yang tidak dapat memproduksi hormon-hormon reproduksi seperti folicle stimulationg hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
  2. Kelainan mekanis yang menghambat pembuahan, seperti kelainan tuba, endometriosis, stenosis canalis cervicalis atau hymen, fluor albus, kelainan rahim
  3. Kelainan tuba yang disebabkan karena adanya penyempitan, perlekatan maupun penyumbatan pada saluran tuba.
  4. Kelainan rahim yang diakibatkan oleh kelainan bawaan rahim, bentuk rahim yang tidak normal maupun ada penyekat.

Penyebab umum masalah kesuburan pada wanita antara lain:

  1. Sumbatan saluran tuba akibat penyakit radang panggul, endometriosis (perlumbuhan sel rahim diluar tempalnya), atau operasi pada kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik).
  2. Gangguan fisik rahim. Uterine fibroid, yang mempakan kumpulan iaringan otot non-kanker pada dinding rahim. Banyak hal yang dapat mengubah kemampuan wanita untuk memiliki bayi, dan diantara banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko tersebut yaitu: usia, merokok, konsumsi alkohol berlebih, stres, diet buruk, aktifitas fisik berat, obesitas atau kurus, infeksi menular seksual (IMS), dan gangguan kesehatan yang menyebabkan perubahan hormonal, seperti SOPK dan IOP (Bolvin et al, 2007). Peningkatan usia dapat mengurangi kesempatan seorang wanita untuk memiliki bayi karena usia tua mengalami penurunan kemampuan ovarium untuk melepaskan sel telur, penurunan jumlah cadangan sel di ovarium, penurunan kualitas sel telur, kondisi kesehatan yang mengakibatkan gangguan kesuburan, dan peningkatan risiko dari telur. setidaknya satu tahun bagi wanita berusia 35 tahun atau lebih untuk mengunjungi dokter setelah enam bulan mencoba hamil. 

D.    Pemeriksaan Infertilitas

Infertilitas pada wanita dapat dilakukan sebagai berikut (Manuaba, 2010):

a.       Pemeriksaan dalam Pemeriksaan dalam dilakukan untuk mengetahui gambaran umum tentang alat kelamin wanita yang meliputi liang senggama, kelainan serviks uteri, kelainan rahim, kelainan pada tuba fallopi atau ovarium. Pemeriksaan sonde (memasukan alat duga ke dalam rahim) dilakukan untuk mengetahui kedalaman dan kedudukan serta arah rahim, kelainan fungsi alat kelamin secara kasar, keberadaan perlekatan dengan organ sekitarnya, (tumor terutama pada indung telur) atau daerah serviks. 

b.      Pemeriksaan Ovulasi Tindakan ini dilakukan dengan anggapan bahwa pada pemeriksaan dalam tidak ditemukan alat kelamin wanita. Pemeriksaan suhu tubuh basal dilakukan untuk membuktikan tidaknya ovulasi. Ovulasi menyebabkan suhu badan basal menjadi bifasik. Waktu perubahan tersebut dianggap terjadi ovulasi, sehingga harus dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seksual dengan kemungkinan hamil yang lebih besar. 

c.       Pemeriksaan terhadap tuba fallopi Tuba fallopi bekerja sangat penting dalam proses kehamilan yaitu sebagai tempat saluran spermatozoa dan ovum, tempat terjadinya konsepsi (pertemuan sel telur dan spermatozoa), tempat tumbuhnya dan berkembangnya hasil konsepsi, tempat saluran hasil konsepsi menuju rahim, untuk dapat bernidasi (menanamkan) diri). Tuba fallopi berukuran sangat kecil sehingga saja terjadi gangguan karena infeksi atau desakan pertumbuhan keadaan tidak dapat menahan sedikit kemampuan. Gangguan fungsi tuba fallopi menyebabkan infertilitas, gangguan perjalanan hasil konsepsi yang disebabkan oleh kehamilan di luar kandungan (ektopik) utuh atau terganggu (pecah). 

d.      Histeroskopi Pemeriksaan histeroskopi adalah pemeriksaan dengan melakukan alat optik ke dalam rahim untuk mendapatkan keterangan tentang mulut tuba fallopi dalam rahim (normal, edema, tersumbat oleh kelainan dalam rahim), lapisan dalam rahim karena pengaruh hormon, polip atau mioma dalam rahim ), dan keteranangan lain yang diperlukan. 

e.       Lapaskopi Pemeriksaan lapaskopi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memasukkan alat optik ke dalam rahim untuk mendapatkan keterangan tentang keadaan di dalam telur yang meliputi ukuran dan situasi permukaannya, adanya graaf folikel, korpus liteum atau korpus albikantes, abnormalitas bentuk, keadaan tubafallopi (yang meliputi, kelainan atau terdapat perlekatan). 

f.       mengikuti tumbuh kembang folikel de Graaf yang matang, sebagai penuntun aspirasi (pengambilan) telur (ovum) pada folikel de Graff untuk pembiakan bayi tabung. Ultrasonografi vagina dilakukan sekitar waktu ovulasi yang didahului dengan pemberian pengobatan dengan klimofen sitrat atau obat perangsang telur lainnya. 

g.      Uji pasca senggama Pemeriksaan uji pasca senggama pengetahuan untuk mengetahui kemampuan menembus spermatozoa dalam pemberi pinjaman serviks. Pasangan lebih suka melakukan hubungan seksual di rumah dan setelah dua jam datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Pemberi pinjaman serviks di ambil dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan jumlah spermatozoa yang di jumpai dalam lendir tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan sekitar perkiraan masa ovulasi yaitu hari ke 12,13 dan 14 dengan perhitungan hari pertama dianggap ke-1. 

h.      hubungan aksis hipotalamus, hipofise,dan ovarium. Hormon yang diperiksa adalah gonadotropin (follicle stimulatiom hormone (FSH), hormon luteinisasi (LH) dan hormon estrogen, progesteron, dan prolaktin). Pemeriksaan hormonal ini dapat menetapkan kemungkinan infertilitas dari kegagalan melepaskan telur (ovulasi).Pemeriksaan harus selesai dalam waktu 3 siklus menstruasi, sehingga pengobatan dapat dilakukan. 

 

E.     Penatalaksanaan Infertilitas

Infertilitas penatalaksanaan pada Wanita meliputi (manuaba,2010):

a.       Berikan obat-obatan untuk mengatasi masalah ovulasi. 

b.      Tindakan operasi untuk mengatasi penyebab kemandulan pada wanita yang berhubungan dengan ovarium, tuba fallopi, dan rahim

c.       Inseminasi intra uterin yaitu dengan menyuntikkan sperma pilihan ke dalam rahim. Sebelum dilakukan tindakan inseminasi intra uterin, terlebih dahulu diberikan obat perangsang ovulasi pada wanita. 

d.      Pemberian seperti nutrisi vitamin E, A, C, asam folat, selenium dan seng (zinc). Obat yang umum digunakan untuk mengobati infertilitas pada wanita termasuk: (Bolvin et al., 2007)

e.       Glomiphene Citrate: Obat ini menyebabkan ovulasi dengan berlindak pada kelenjar pituitari . Obat ini sering digunakan pada wanita dengan Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) atau gangguan ovulasi lainnya. Obat ini digunakan dengan cara diminum.

f.       Human Menopousal Gonadotropin atau hMG: Obat ini sering digunakan untuk wanita yang tidak berovulasi karena adanya gangguan kelenjar pituari. hMG bekerja langsung pada ovarium untuk memicu ovulasi. Obat ini diberikan secara injeksi.

g.      Follicle-Stimulating Hormone atau FSH: FSH bekerja seperti hMG. Obat ini memicu ovarium untuk memulai proses ovulasi. Obatobatan ini juga diberikan melalui injeksi.

h.      Analog Gonadotropin-Releasing Hormone (Gn-RH) : Obat-obatan ini sering digunakan untuk wanita yang tidak teratur setiap bulan. Wanita yang mengalami ovulasi sebelum telur mencapai kematangan juga dapat menggunakan obat-obatan ini. Analog Gn-RH bekerja dengan meniru cara kerja Gn-RH alami dalam tubuh. Obatobatan ini biasanya disuntikkan atau diberikan dengan semprotan hidung.

i.        Metformin: Dokter menggunakan obat ini untuk wanita dengan resistensi insulin dan atau SOPK. Obat ini membantu menurunkan kadar hormon laki-laki yang tinggi pada wanita dengan kondisi ini. Obat ini membantu tubuh untuk berovulasi. Metformin dapat dikombinasikan dengan Glomiphene Citrate atau FSH. Obat ini digunakan secara lisan.

j.         Bromocriptine: Obat ini untuk wanita dengan gangguan ovulasi karena tingginya kadar prolaktin. Prolaktin merupakan hormon yang menyebabkan terjadinya produksi susu.

 

Pada kesuburan wanita juga bisa memanfaatkan teknologi yang dikenal sebagai Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) yaitu teknologi yang menggunakan sekelompok metode yang berbeda untuk membantu pasangan infertil. TRB mengambil sel telur dari tubuh wanita. Sel telur ini kemudian dipertemukan dengan sperma untuk menjadi embrio. Embrioembrio kemudian dimasukkan kembali ke dalam tubuh wanita (Bolvin et al., 2007). Tingkat keberhasilan TRB bervariasi dan tergantung pada banyak faktor. Beberapa hal yang mempengamhi tingkat keberhasilan TRB meliputi: usia pasangan, penyebab infertilitas, jenis TRB yang digunakan, jenis telur yang digunakan dalam pembuahan bayi tabung apakah telur segar atau beku. 

Menurut US Centers for Disease Prevention (GDC) pada tahun 2006 mengumpulkan tingkat keberhasilan TRB sebagai berikut:

  1. 39 persen pada wanita < 35 tahun
  2. 30 persen pada wanita 35-37 tahun
  3. 21 persen pada wanita 37-40 tahun
  4. 11 persen pada wanita 41-42 tahun

TRB mahal dan memakan waktu, namun TRB memberikan kesempatan pada pasangan infertil untuk memiliki anak. TRB memiliki metode umum sebagai berikut :

a.       Fertilisasi in vitro (FIV) berarti pembuahan di luar tubuh. FIV adalah TRB yang paling efektif. FIV sering digunakan untuk saluran tuba wanita tersumbat atau ketika seorang pria menghasilkan sperma terlalu sedikit. Dokter memberikan wanita obat yang menyebabkan ovarium menghasilkan beberapa sel telur.laboratorium bersama sperma pria untuk fertilisasi. Setelah 3 sampai 5 hari, embrio yang sehat ditanamkan di dalam rahim wanita. 

b.      Zygote lntrafallopian Transfer (ZIFI'), teknik serupa dengan FIV. Pembuahan juga terjadi di laboratorium. Embrio yang sangat muda (zigot) kemudian ditransfer ke saluran tuba. 

c.       Transfer Gamet Intrafallopian (GIFI). Teknik ini melibatkan mentransfer telur dan sperma ke dalam saluran tuba wanita. 

Intracytoplasmic Sperm Injection (IGSI) atau injeksi sperma intrasitoplasmik. IGSI sering digunakan untuk pasangan dengan gangguan sperma, kadang-kadang juga digunakan untuk pasangan usia tua atau bagi mereka yang mengalami kegagalan dengan FIV. Teknik IGSI dilakukan dengan cara satu sperma disuntikkan ke dalam sel telur yang matang, kemudian embrio ditransfer ke rahim atau saluran tuba.

2.2 Gangguan Menstruasi

2.2.1 Pengertian Gangguan Menstruasi

Gangguan  menstruasi adalah tidak teratur  lamanya menstruasi dan  berubah-rubah setiap bulannya dan volume darah yang berubah-rubah .

Gangguan siklus menstruasi dapat berupa polimenorrhea, oligomenorrhea, dan amonerrhea (Imasari, 2017). Masalah kesuburan merupakan salah satu akibat dari siklus menstruasi yang tidak teratur. Hormon yang tidak seimbang saat menstruasi tidak teratur akan berdampak pada masalah kesuburan seorang perempuan. Kesuburan identik dengan proses ovulasi (kondisi dimana sel telur siap dibuahi (Lestari and Amal, 2019). Proses ovulasi yang terganggu akan membuat perempuan sulit untuk mencari masa subur. Apabila seorang perempuan sulit untuk mencari kapan masa subur, maka perempuan tersebut memiliki peluang lebih kecil untuk hamil. Gangguan siklus menstruasi juga merupakan indikator yang menunjukkan adanya gangguan pada sistem reproduksi yang dapat dihubungan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit seperti kanker rahim, kanker payudara dan infertilitas (Mahitala, 2015).

 

2.2.2 Gangguan Siklus menstruasi dibagi menjadi 3 macam,yaitu :

A.    Polimenorea adalah siklus menstruasi dengan jumlah rentang hari kurang dari 21 hari dan atau volume darah sama atau lebih banyak dari volume darahan menstruasi biasanya. Gangguan ini mengindikasikan gangguan pada proses ovulasi, yaitu fase luteal yang pendek. Polimenorea menyebabkan unovulasi pada wanita karena sel telur tidak dapat matang sehingga pembuahan sulit terjadi.

Wanita dengan kondisi polimenorea mengalami menstruasi dua kali atau lebih dalam sebulan, dengan pola yang teratur dan jumlah perdarahan yang relatif sama atau lebih banyak dari biasanya. Polimenorea dapat diasosiasikan dengan kondisi siklus anovulasi, penyakit inflamasi pelvic, endometriosis, dan kondisi PCOS (polycystic ovary syndrome).

Kondisi polimenorea lebih sering terjadi pada remaja dan wanita yang akan menopause. Terkadang, kondisi polimenorea juga dapat terjadi pada wanita pasca-operasi, ketika kelenjar pituitari masih aktif.

 

1)      Pencegahan

Pencegahan kondisi polimenorea dilakukan dengan meminimalisasikan faktor risiko penyebab terjadinya polimenorea, seperti:

a)    Mengontrol berat badan ideal.

b)    Menghindari stres dan depresi.

c)     Menjalani pola hidup sehat dengan melakukan olahraga secara teratur dan menerapkan pola makan yang sehat.

d)    Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami siklus menstruasi yang singkat (kurang dari 21 hari), untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti anemia dan gangguan kesuburan.

e)     Menjaga kesehatan genital untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular seksual

2)      Gejala

Gejala umum terjadinya polimenorea antara lain :

a)      Siklus haid yang pendek (kurang dari 21 hari).

b)      Frekuensi menstruasi yang meningkat (lebih dari 1-2 kali dalam sebulan).

c)      Durasi menstruasi yang panjang.

d)     Dapat juga disertai dengan peningkatan volume darah menstruasi.

e)      Pasien dengan kondisi polimenorea dapat mengalami kondisi anemia.

3)      Penyebab

Kondisi polimenorea disebabkan oleh terjadinya ketidakseimbangan sistem hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium, yang mengakibatkan terjadinya gangguan proses ovulasi (pelepasan sel telur). Alhasil, terjadi pemendekan waktu pada siklus menstruasi normal, sehingga menstruasi pun menjadi lebih sering.

Ketidakseimbangan hormonal ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, yaitu:

a)      Awal menstruasi pertama (3 hingga 5 tahun pertama menstruasi) maupun beberapa tahun menjelang menopause.

b)      Gangguan indung telur, seperti endometriosis dan PCOS (polycystic ovary syndrome).

c)      Stres dan depresi.

d)     Pasien dengan gangguan makan, seperti anoreksia nervosa, bulimia, dan diet yang berlebih.

e)      Perubahan (peningkatan maupun penurunan) berat badan yang terlalu cepat.

f)       Berat badan berlebih atau obesitas.

g)      Aktivitas berlebih seperti olahraga berlebihan.

h)      Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antikoagulan, aspirin, NSAID, dan kontrasepsi oral.

4)      Diagnosis

Penegakan diagnosis polimenorea dilakukan dengan melakukan anamnesis melalui pemantauan beberapa parameter, seperti lama siklus periode mentruasi, durasi menstruasi, maupun volume darah selama menstruasi. Selain itu, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah lengkap, USG (untuk memastikan tidak adanya kelainan organ), serta pemeriksaan kadar hormon reproduksi, seperti progesteron, LH, FSH, dan prolaktin.

 

5)      Penanganan

a)      Pada umumnya, polimenorea bersifat sementara dan dapat disembuhkan. Polimenorea yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan gangguan hemodinamik tubuh akibat darah yang keluar terus-menerus. Hal ini memicu terjadinya anemia.

b)      Selain itu, kondisi polimenorea dapat memicu terjadinya gangguan kesuburan, karena adanya gangguan proses ovulasi. Tujuan terapi polimenorea adalah untuk mengontrol perdarahan serta mencegah terjadinya perdarahan berulang yang dapat menyebabkan komplikasi, seperti anemia dan gangguan kesuburan.

c)        Terapi yang diberikan tergantung pada usia, resiko kesehatan, dan pilihan kontrasepsi. Pada umumnya, terapi farmakologi kondisi polimenorea meliputi terapi hormonal, seperti hormon estrogen dan hormonal kombinasi (estrogen dan progesteron), serta tablet penambah darah untuk mengoreksi kondisi anemia.

d)       Pemberian obat NSAIDs (nonsteroidal anti-inflammatory drugs), seperti ibuprofen, naproxen, dan asam mefenamat, menunjukkan penurunan kejadian perdarahan. Pemberian obat NSAIDs akan menurunkan level prostaglandin yang tinggi pada pasien dengan kondisi perdarahan yang lebih intens.

 

B.     Oligomenorea adalah siklus menstruasi dengan durasi lebih dari 35 hari. Volume perdarahan umumnya lebih sedikit dari volume perdarahan menstruasi biasanya. Gangguan jenis ini berakibat ketidaksuburan dalam jangka panjang karena sel telur jarang diproduksi sehingga tidak terjadi pembuahan. Oligomenorea tidak berbahaya pada wanita, namun dapat berpotensi sulit hamil karena tidak terjadi ovulasi (Sarwono, 2011). Gangguan hormonal, status gizi, tinggi rendahnya IMT (Indeks Massa Tubuh), dan tingkat stress adalah faktor-faktor yang mengakibatkan timbulnya gangguan siklus menstruasi (Gharravi, 2019). Terdapat hubungan antara IMT dengan siklus menstruasi. Penurunan IMT berakibat pada peningkatan durasi siklus menstruasi (Sinha et al., 2011). Seseorang dengan status gizi overweight berisiko mengalami anovulatory chronic (Karyadi, 2017). Wanita dengan kondisi ini, cenderung memiliki sel – sel lemak yang lebih banyak sehingga produksi hormon estrogen juga menjadi berlebih. Adapun wanita dengan status gizi underweight, cenderung kekurangan sel lemak sehingga produksi hormon estrogen berkurang.

Hal ini berdampak pada kejadian ketidakteraturan siklus menstruasi (Evan., 2011). Tingkat stres berhubungan dengan siklus menstruasi karena stres berhubungan dengan tingkat emosi, alur berpikir, dan kondisi batin seseorang. Faktor stres dapat mempengaruhi produksi hormon kortisol yang berpengaruh pada produksi hormon estrogen wanita (Sherwood, 2017).

1.         Etiologi/factor risiko

Menurut (Purwoastuti & Walyani, 2015), penyebab dari oligomeorea ialah :

a)      Stress dan depresi 

b)      Sakit kronik

c)      Pasien dengan gangguan makan (seperti anoreksia dan bulimia)

d)     Penurunan berat badan berlebihan

e)      Olah raga berlebihan

f)       Adanya tumor yang melepaskan esterogen.

g)      Adanya kelainan pada struktur Rahim atau serviks yang menghambat pengeluaran darah menstruasi.

h)      Pengunaan obat-obat tertentu

 

2.      Fisiologis dan Patofisiologis

  Paparan lingkungan dan kondisi kerja Gangguan Endokrin,Paparan  kimiawi Insensitivitas hormon insulin meracuni Ovarium Wanita obesitas atau hipotiroi hilangnya folikel. Folikel Siklus menstruasi memanjang Gangguan EmosiMenstruasi jarang terjadi Emosi tidak stabil Oligomeorea(Irianto, 2015).

 

3.      Pemeriksaan Penunjang

Menurut Saftarina & Putri (2016) pemeriksaan penunjang yang dapatdilakukan pada klien dengan oligomenorea antara lain :

a)      Anamnesis: menanyakan frekuensi keteraturan menstruasi.

b)      Tes kadar progesteron: apabila perempuan tersebut memiliki keteraturanhaid namun infertilitas dalam 1 tahun dan perempuan dengan oligomenorhea.

c)      Pengukuran kadar FSH dan LH: dilakukan pada perempuan dengan siklushaid tidak teratur.

d)     Pengukuran kadar prolactin: dilakukan apabila terdapat kecurigaan adanyakelainan ovulasi terkait tumor.

e)      Pemeriksaan cadangan ovariumUntuk pemeriksaan cadangan ovarium, parameter yang dapat digunakanadalah AMH (antimullerian hormone)dan folikel antral basal (FAB). Berikutnilai AMH dan FAB yang dapat digunakan:a. Hiper-responder (FAB > 20 folikel / AMH > 4.6 ng/ml b. Normo-responder (FAB > 6-8 folikel / AMH 1.2 -4.6 ng/ml)

 

C.       Amenorrhea

Amenorrhea adalah tidak terjadinya menstruasi seorang wanita pada usia reproduktif. Menstruasi yang teratur membutuhkan beberapa kondisi seperti axis endokrin hipotalamuspituitary-ovarium, endometrium yang kompeten dalam merespon stimulasi hormon steroid, serta saluran genitalia internal dan eksternal yang intak. Amenorrhea bukan suatu penyakit tetapi gejala dari suatu penyakit yang dapat disebabkan oleh berbagai sebab seperti anomali differensiasi gonad, gangguan endokrin dan kelainan genetik yang spesifik

 

1.    Faktor-faktor yang mempengaruhi amenorrhea

a.       Faktor Internal

a)      Organ Reproduksi Faktor yang mempengaruhi amenorrhea adalah vagina tidak tumbuh dan berkembang dengan baru, rahim yang tidak tumbuh, indung telur yang tumbuh. Tidak jarang ditemukan kelainan lebih kompleks pada rahim atau rahim tidak tumbuh dengan sempurna. Kelainan ini disebut ogenesis genitalis bersifat permanen artinya wanita tersebut tidak akan mendapatkan haid selama-lamanya. (Pardede,2002).

b)      Hormonal Alat reproduksi wanita merupakan alat akhir (endogen) yang dipengaruhi oleh sistem hormonal yang komplek. Rangsangan yang datang dari luar masuk dipusat panca indra diteruskan melalui Striaeterminalis menuju pusat yang disebut “Puberitas Inhibitor” dengan hambatan tersebut tidak terjadi rangsangan terhadap hypotalamus, yang akan memberikan rangsangan pada “Hipofise Pars Posterior” sebagai “Mother of Glad” (Pusat kelenjar-kelenjar). Rangsangan yang terus menerus datang di tangkap panca indra, dengan makin selektif dapat lolos menuju hypothalamus dan selanjutnya terus menuju hipofise anterior (depan) mengeluarkan hormon yang dapat merangsang kelenjar untuk mengeluarkan hormon yang dapat merangsang kelenjar untuk mengeluarkan hormon spesifiknya yaitu kelenjar tyroid memproduksi hormon tiroksin, kelenjar indung telur memproduksi hormon estrogen dan progesteron, sedangkan kelenjar adrenal menghasilkan hormon adrenalin. Pengeluaran hormon spesifik sangat penting untuk tumbuh kembang mental dan fisik (Pardede,2012).

c)      Penyakit Beberapa penyakit kronis yang menjadi penyebab terganggunya siklus haid, Kanker payudara dan lain-lain. Kelainan ini menimbulkan berat badan yang sangat rendah sehingga datangnya haid akan terganggu (Suhaemi, 2016).

b.      Factor Eksternal

a)      Status Gizi : Kecukupan pangan yang esensial baik kualitas maupun kuantitas sangat penting untuk siklus menstruasi. Setiap orang dalam siklus hidupnya selalu membutuhkan dan mengkonsumsi berbagai bahan makanan yang mengandung zat gizi. Zat gizi mempunyai nilai yang sangat penting yaitu untuk memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih,2014).

b)      Gaya Hidup : Gaya hidup terutama perilaku makan dengan porsi yang cukup dan sesuai jadwal serta mengandung gizi seimbang ( 4 sehat 5 sempurna) dapat menyebabkan kondisi tubuh terasa fit dan terhindar dari kekurangan gizi sehingga siklus menstruasi berjalan normal (Soetjiningsih, 2012).

 

2.    Klasifikasi Amenorrhea

a.       Amenorrhea primer Amenorrhea primer mengacu  pada masalah ketika wanita muda yang berusia lebih dari 16 tahun belum mengalami menstruasi tetapi telah menunjukkan maturasi seksual, atau menstruasi mungkin tidak terjadi sampai usia 14 tahun tanpa disertai adanya karakteristik seks sekunder.

b.      Amenorrhea sekunder  Amenorrhea sekunder adalah tidak adanya haid selama 3 siklus atau 6 bulan setelah menstruasi normal pada masa remaja, biasanya disebabkan oleh gangguan emosional minor yang berhubungan dengan berada jauh dari rumah, masuk ke perguruan tinggi, ketegangan akibat tugas-tugas. Penyebab kedua yang paling umum adalah kehamilan, sehingga pemeriksaan kehamilan harus dilakukan.

 

 

3.      Penyebab Amenorrhea secara umum adalah :

  1. Hymen Imperforata : Selaput darah tidak berlubang sehingga darah menstruasi terhambat untuk keluar.
  2. Menstruasi Anavulatori : Rangsangan hormone – hormone yang tidak mencukupi untuk membentuk lapisan dinding rahim sehingga tidak terjadi haid atau hanya sedikit.
  3.  Disfungsi Hipotalamus : kelainan organik, psikologis, penambahan berat badan
  4. Disfungsi hipofise : tumor dan peradangan
  5. Disfungsi Ovarium : kelainan congenital, tumor
  6. Endometrium tidak bereaksi
  7. Penyakit lain : penyakit metabolik, penyakit kronik, kelainan gizi, kelainan hepar dan ginjal.

Tanda dan gejala tergantung dari penyebabnya :

a)      Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan ditemukan tanda – tanda pubertas seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut kemaluan dan rambut ketiak serta perubahan bentuk tubuh.

b)      Jika penyebanya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan pembesaran perut.

c)      Jika penyebabnya adalah kadar hormon tiroid yang tinggi maka gejalanya adalah denyut jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan lembab.

d)     Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat ( moon face ), perut buncit, dan lengan serta tungkai yang lurus.

 

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada amenorrhea :

a)      Sakit kepala

b)      Galaktore ( pembentukan air susu pada wanita yang tidak hamil dan tidak sedang menyusui )

c)      Gangguan penglihatan ( pada tumor hipofisa )

d)     Penurunan atau penambahan berat badan yang berarti

e)      Vagina yang kering

f)       Hirsutisme ( pertumbuhan rambut yang berlebihan, yang mengikuti pola pria ), perubahan suara dan perubahan ukuran payudara.

 

2.3  Hormon Replacement Theraphy

A.                 Pengertian  Hormon Replacement Theraphy

Hormone replacement therapy (hrt) atau terapi sulih hormon (tsh) adalah perawatan medis yang menghilangkan gejala-gejala pada wanita selama dan setelah menopause untuk menggantikan hormone yang kurang kadarnya karena tidak diproduksi secukupnya lagi akibat kemunduran fungsi organ-organ endokrin hormone. Menopause adalah berhentinya masa haid pada wanita sehingga kemampuan untuk bereproduksi sudah tiadak ada, hal ini ditandai dengan perubahan hormonal yang nyata pada tubuhnya. Hal ini juga menyebabkan menurunnya jumlah hormon estrogen, dimana hormon ini merupakan hormon yang berhunbungan dengan sistem reproduksi, yang menyebabkan wanita merasakan gejala tak enak, termasuk panas pada wajah, vaginal kekeringan, sifat lekas marah, dan depresi. Tsh secara parsial mengembalikan keseimbangan estrogen di tubuh wanita untukmengurangi atau mengeliminasi gejala ini. Ths dapat meringankan penderitaan tidak hanya pada wanita dewasa yang mengalami menopause alami, tetapi juga di wanita muda yang mungkin mengalami menopause prematur untuk alasan medis, seperti kanker atau sebab kelainan ovarium yang berhenti menghasilkan estrogen. Sebagai tambahan dalam mengurangi gejala asosiasi dengan menopause, tsh memiliki banyak keuntungan dan bahkan proteksi dari penyakit tertentu, termasuk osteoporosis, penyakit jantung, dan stroke. Studi medis yang sedang berjalan telah menunjukkan bahwamenggunakan tsh, dalam jangka panjang itu tidak selalu berguna, dan dalam beberapa peristiwa ini mungkin sebenarnya menaikkan resiko kanker, serangan jantung, dan penyakit lain.

 

B.     Kontra indikasi HRT

Mutlak : tromboemoloisme (thrombosis), anemia sel sabit, penyakit serebro, hipertensi berat, uji fungsi hati setelah hepatitis abnormal, gangguan enzim. Relatif : penyakit kardiovaskuler, dm, penyakit ginjal, tbc, kanker payudara, fibroadenasis, caendometrium,

migraine, dan epilepsy.

C.     Efek samping umum HRT


Mual, sakit kepala, perdarahan, depresi, perubahan emosi, nyeri tekanan pada payudara, perut kembung, siklus menstruasi yang berkepanjangan, kegagalan untuk mengurangi gejala-gejala. Efek samping hrt (estrogen) adalah kanker payudara, kanker endometrium, tromboplebitis, perdarahan bercak. Jika sediaan progesteron digunakan bersama dengan sediaan estrogen, sebagian besar akan mengalami perdarahan bulanan sebagaimana layaknya siklus menstruasi. Efek sampingan yang mungkin dialami para wanita pengguna terapi hormon di antaranya mual, payudara menjadi lebih besar dan lebih lembut, puting payudara berdiri, dan menjadi lebih gemuk. Efek itu mungkin akan semakin berkurang seiring dengan lamanya masa terapi. Sedangkan efek sampingan yang agak jarang dijumpai, antara lain kekurangan dorongan untuk berhubungan intim, depresi, perdarahan di tengahtengah siklus menstruasi, sakit pada dada dan persendian (kaki).

 

2        Petunjuk praktis penggunaan HRT


Semua wanita yang akan menggunakan pengobatan hrt harus memahami dan mengerti bahwa pemberian hrt bukan untuk memperlambat menopause melainkan untuk mengurangi atau mencegah keluhan atau penyakit akibat kekurangan estrogen. Adapun wanita-wanita yang direkomendasikan untuk diberi hrt adalah :semua wanita klimaterik, tanpa kecuali yang ingin menggunakan hrt untuk pencegahan (meskipun tanpa keluhan),semua wanita yang memiliki risiko penyakit kardiovaskuler, dan semua wanita dengan keluhan klimaterik osteoporosis
Penggunaan hrt sebagi pencegahan baru akan memiliki khasiat setelah 5 tahun. Anamnesis yang dilakukan dengan baik dapat mempermudah dalam menegakkan diagnosis, indikasi serta dapat memberikan informasi tentang risiko dan adanya kontraindikasi. Untuk dapat menilai keluhan klimaterik dapat digunakan menopause rating scale (mrs) dari green yang biasa dikenal dengan skala klimaterik green.

a.    Skala ini dapat mengukur 3 kelompok keluhan yaitu :

1.      keluhan psikologis berupa jantung berdebar, perasaan tegang atau tekanan, sulit tidur, mudah tersingung, mudah panic, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, hilang minat pada banyak hal, perasaan tidak bahagia, dan mudah menangis.

2.      keluhan somatic berupa perasaan pusing, badan terasa tertekan, sebagaian tubuh terasa tertusuk duri, sakit kepala nyeri otot atau persendian tangan atau kaki terasa gatal, dan kesulitan bernafas.

3.      keluhan vasomotor, berupa gejolak panass (hot flushes) dan berkeringat di malam hari.

4.      Tiap-tiap keluhan dinilai derajatnya sesuai dengan ringan beratnya keluhan dengan memakai 4 tolak ukur skala nilai yaitu

a)      Nilai 0 (tidak ada) : bila tidak ada keluhan sama sekali

b)      Nilai 1 (sedikit) : bila keluhan yang timbul sekali-kali dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

c)      Nilai 2 (sedang) : bila keluhan sering timbul tetapi belum mengganggu aktivitas sehari-hari

d)     Nilai 3 (berat) : bila keluhan sering timbul dan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

a.       Infertilitas adalah suatu kondisi tidak terjadinya  kehamilan pada pasangan yang telah berhubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur dalam waktu satu tahun

b.      Gangguan Menstruasi adalah Siklus menstruasi tidak teratur jika lamanya menstruasi berubah-rubah setiap bulannya dan volume darah yang berubah-rubah .Gangguan siklus menstruasi dibagi menjadi 3 : polimenorrhea, oligomenorrhea, dan amonerrhea

c.       Hormone replacement therapy (hrt) atau terapi sulih hormon (tsh) adalah perawatan medis yang menghilangkan gejala-gejala pada wanita selama dan setelah menopause untuk menggantikan hormone yang kurang kadarnya karena tidak diproduksi secukupnya lagi akibat kemunduran fungsi organ-organ endokrin hormone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Rahardini,Kiki.2017.”INFERTILITAS PADA WANITA”

 

Suhelda.2019.GANGGUANMENSTRUASI(AMENOREA,HIPOGONADOTROPIK, DESMONIRE DAN ENDOMETRIOSIS)

 

Yuni,Purwati.2020.” Gangguan Siklus Menstruasi Akibat Aktivitas Fisik dan Kecemasan”

 

Latifa.Umi.2018.” FAKTOR-FAKTOR YANG HUBUNGAN DENGAN GANGGUAN MENSTRUASI PADA COMMUTER (PENGLAJU)”

 

Risa.2019.”ASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN DENGAN OLIGOMENOREA”  

 

Sari,Nurmala.2018.” HORMON REPLACEMENT THERAPY”

 






 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak