MAKALAH
“
Landasan dan Konsep Dakwah “
Kata Pengantar
Puji
syukur kepada Hadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan ridho-NYA kita dapat
menyelesaikan tugas makalah secara tepat waktu tanpa ada hambatan.
Adapun
tujuan pembuatan pembuatan makalah ini memenuhi kebutuhan tugas yang
diberikan oleh Bapak/Ibu Dosen Syamsul
Arifin M.Ag mata kuliah Pengantar Ilmu Dakwah tentang Landaasan dan Konsep Dakwah bertujuan
menjadi acuan pembelajaran sekaligus menjadi tambahan wawasan kami dalam proses
perkuliahan kedepan.
Sebelumnya
kami ucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu Dosen atas bimbingan dan bantuan
moral maupun materi.
Dalam
penyusunan makalah ini,kami sangat menyadari bahwasanya makalah kami sangat
jauh dari kata sempurna baik secara bahasa, kata, bahkan keseluruhan isi dari
makalah ini.diharapkan bapak/ibu dosen memberikan kritik maupun saran tentang
isi makalah ini.
Semoga
dalam penulisan makalah Landasan dan
Konsep Dakwah memberikan manfaat bagi kami maupun orang lain sebagai
tambahan wawasan dan ilmu pengetahuan.
Pamekasan,
17 Maret 2022
Penyusun,
Daftar Isi
HALAMAN
JUDUL....................................................................................................................
KATA
PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR
ISI.............................................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar
Belakang...........................................................................................................1
B. Rumusan
Masalah......................................................................................................1
C. Tujuan
Penulisan.......................................................................................................1
BAB 2 PEMBAHASAN...........................................................................................................2
1. Konsep dakwah menurut Al-Qur’an..........................................................................2
2. Konsep dakwah menurut sunnah................................................................................3
3. Hakikat
Dakwah.........................................................................................................4
BAB 3 PENUTUP.....................................................................................................................6
A.
Kesimpulan................................................................................................................6
B.
Saran..........................................................................................................................6
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................................7
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah
memiliki peranan yang sangat penting di dalam agama islam, secara segi hukum
dakwah merupakan kewajiban yang diemban bagi setiap umat islam. Dalam
prespektif dakwah, Al-Quran dipandang sebagai kitab dakwah yang merupakan
rujukan pertama dan utama. Al-Quran memperkenalkan sejumlah istilah kunci yang
melahirkan konsep dasar dakwah.
Seiring
berkembangnya zaman banyak diantaranya para umat islam yang semakin luntur
dalam berpegang teguh dengan keyakinan di dalam dirinya, semakin berkrangnya
dalam menyayngi atau menghargai diri dan juga berkurangnya sifat malu di dalam
dirinya yang berujung kepada kemaksiatan. Ditambah lagi dengan semakin
sedikitnya para tokoh agama yang menjadi tauladan atau panutan hidup
kedepannya. Peristiwa ajaran agama yang menyesatkan kini cukup tersebar luas di
kalangan masyarakat dengan jangkauan informasi yang begitu cepat baik secara
online maupun offline. Maka daripada itu saatnya kita untuk lebih meningkatkan
keimanan diri kita dan juga menambah wawasan terkait informasi ajaran agama
islam dengan seluas luasnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa konsep dakwah menurut Al-Qur’an?
2.
Apa konsep dakwah menurut sunnah?
3.
Apa itu hakikat dakwah?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk Mengetahui konsep dakwah menurut Al-Qur’an
2.
Untuk mengetahui konsep dakwah menurut sunnah
3.
Untuk mengetahui apa itu hakikat dakwah
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Konsep Dakwah
menurut Al-Qur’an
Konsep dakwah
terdiri dari dua
suku kata yaitu
konsep dan dakwah.
Konsep secara etimologi berarti rancangan, ide, atau apapun yang digunakan akal budi untuk memahami
sesuatu.[1]
Yang secara etimologi dakwah berarti seruan ajakan, atau panggilan. Biasanya dakwah
ini ditujukan ke seluruh umat muslim dengan menyampaikan hal-hal yang berkaitan
dengan ajaran yang terkandung dalam agama islam tanpa ada unsur paksaan dalam
penyampaiannya.
Disini
Al-Qur’an memerlukan hal yang menunjang dalam mencapai sebuah target dengan
menyajikan materi-materi dakwah yang antara lain; mengemukakan kisah –kisah
yang berkaitan dengan salah satu tujuan materi ajaran islam seperti sejarah
nabi, peristiwa di masa lalu, gambaran peristiwa yang akan terjadi di masa
mendatang. Kemudian, nasihat dan panutan yang maksudnya di dalam sebuah
Al-Qur’an menggunakan sebuah kata atau kalimat yang menyentuh hati untuk memberikan
sebuah ide-ide baru dan sesuatu hal yang menarik sebagai bentuk ajakan agar
setiap orang mengetahui bahwa terdapat sebuah keistimewaan di dalamnya tetapi
juga diperlukan sebuah perilaku teladan untuk meyakininya. Yang terakhir adalah
pembiasaan yang maksudnya dimana setiap orang diperlukan mencapai target yang
diinginkan yaitu dengan meninggalkan sesuatu yang dirasa tidak bermanfaat dan
melakukan sesuatu yang dirasa bermanfaat.
Untuk
metode dakwah itu sendiri berpijak kepada 2 aktivitas yaitu aktivitas
lisan/tulisan dan aktivitas badan/perbuatan, yang masing-masing diantaranya
memiliki konsep penyampaian yang berbeda dan tujuan yang juga berbeda. Dan juga
di dalam sebuah penyampaiannya tidak sembarangan, Berikut adalah metode
penyampaian berdasarkan Al-Qur’an antara lain:
1.
Metode Dakwah Bi Al-Hikmah
Dalam
Ensiklopedi Islam Indonesia, hikmah secara harfiah berarti ucapan yang sesuai
dengan kebenaran, falsafat, perkara-perkara yang benar dan lurus, keadilan dan
lapang dada. Adapun menurut istilah pada ahli memberikan berbagai pengertian
tentang hikmah sesuai dengan disiplin ilmu mereka masing-masing. Namun secara
umum hikmah merupakan pengetahuan yang paling tinggi nilainya, yaitu pengetahuan
yang menghubungkan manusia pada pemahaman tentang dunia akhirat.[2]
Bisa disimpulkan bahwasanya bi al-hikmah adalah menyampaikan sebuah materi
dakwah dengan memperhatikan konteks sasaran yang tepat dan mengajak sesuai
dengan kemampuan mad’u dan membimbing dalam mencapai ridho Allah SWT.
2. Metode Dakwah Mau’idzah Hasanah
Secara etimologi, lafadz mau ‘idzah-derivasi
dari kata wa’adza berarti “Peringatan atau nasehat agama” Nasehat atau
anjuran yang bersifat Spritual. Secara terminologis menurut Syihata, mau
‘idza hasanah adalah pelajaran yang baik yang dapat masuk dengan lembut ke
dalam hati, dan mendalami perasaan dengan halus tanpa kekerasan dan kemarahan
dari yang tidak perlu ; tidak mengungkit kesalahan yang mereka (sasaran dakwah)
lakukan, baik disengaja maupun tidak. Peringatan yang lembut lebih bisa memberi
petunjuk bagi hati yang ingkar, keras dan menentang.[3]
Yang berarti metode dakwah ini memiliki cara dalam menyampaikan dakwah seorang
da’i harus menciptakan seruan/ajakan dengan hal yang efektif dan harus
mengetahui beberapa karakter emosional para audience.
3. Metode Mujadalah Al-Lati Hiya Ahsan
Metode
ini merupakan upaya dakwah melalui bantahan, diskusi, atau berdebat dengan cara
yang terbaik, sopan, santun, saling menghargai, dan tidak arogan.[4]
Yang dimana dakwah ini lebih diperuntukkan kepada orang yang dengan angkuh dan
sombong dalam melakukan kebathilan, mengambil posisi arogan dalam dakwah, orang
yang di dalam hatinya masih terikat dengan perbuatan jahiliyah.
2. Konsep Dakwah
menurut Sunnah
Sebelumnya
perlu diketahui dakwah menurut sunnah adalah sebuah aktivitas mengajak/seruan
kepada umat muslim untuk mengikuti tata cara dan metode dakwah berdasarkan
Rasul. Kata sunnah sendiri sering kali kita kaitkan dengan hadist yang
cenderung mengarah kepada Nabi Muhammad SAW. Terkait sesuatu hal baik itu
perbuatan, perkataan dan ketetapan. Maka daripada itu kita sebagai manusia
perlu untuk meneladani cara dalam berdakwah.
Dalam
penyampaian sebuah dakwahnya Nabi Muhammad SAW. Menerapkan beberapa metode dan
dapat dikembangkan konteks nya di kehidupan masyarakat dan juga etika dakwah
yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Bersifat universal. Berikut ini
beberapa metodenya antara lain:
a.
Dakwah Persuasif, maksudnya adalah yakni dakwah dalam sebuah penyampaian
menggunakan cara-cara yang halus dan tanpa adanya unsur paksaan.
b.
Dakwah Inklusif, yang maksudnya adalah aktivitas cara dakwah yang dilakukan
dengan mengedepankan sisi persamaan dengan agama lain.[5]
Yang secara garis besarnya disini
dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Yaitu dengan cara akhlak. Dan sampai
saat ini telah terbukti efektif dan menjawab seluruh problematika/hal-hal yang
menjadi tanda tanya di kalangan masyarakat. Mungkin untuk saat ini ada juga
seseorang mengalami kegagalan dalam berdakwah dikarenakan tidak meneladani cara
dan etika Nabi Muhammad SAW. Dalam berdakwah. Cakupan dari etika dakwah yang
disampaikan Nabi Muhammad SAW. mencakup berbagai segi kehidupan, meliputi
pelaksanaan ibadah, hidup rumah tangga, politik, dunia usaha/pekerjaan dan
lain-lain.
3. Hakikat Dakwah
Hakikat dakwah di dalam sebuah ayat
Al-Qur’an adalah mengajak kepada Allah dengan ahsanu qawla dan ahsanu
‘amala dengan terlebih dahulu
membuktikannnya dirinya sebagai da’i sebagai pemberi pesan dakwah.[6]
Dalam sebuah rangkaian mengenai dakwah dapat melibatkan dari beberapa unsur di
dalamnya antara lain da’i, pesan, media, metode, mad’u, tujuan dan respon. Hakikat
dakwah disini ada 3 bagian antara lain;
a. Kebebasan yang maksudnya adalah bahwa
obyek dakwah harus benar benar yakin tentang kebenaran Islam dari penilaiannya
sendiri, bebas dari ancaman atau paksaan. Kebebasan ini memiliki nilai yang
tinggi prinsipnya dalam berdakwah.
b. Rasionalitas yang maksudnya adalah
mengajak manusia untuk berpikir, berdebat dan berargumen. Dakwah harus merupakan
penjelasan tentang kesadaran, dimana akal dan hati tidak saling mengabaikan.
Keputusannya harus berupa tindak akal diskursif mendisiplinkan dan intuisi
emosi dari nilai-nilai yang terlibat.
c. Universalisme yang maksudnya adalah
dakwah islam berlaku bagi semua orang di setiap tempat kapanpun atau dimanapun.
Universalitas dakwah memiliki dua dimensi, yaitu universalitas dalam arti ia
berlaku di setiap tempat, tanpa mengenal batas etnis, dan universalitas dalam
arti ia berlaku di setiap waktu tanpa ada batasan. Islam memandang semua orang
mempunyai kewajiban untuk mendengar bukti dan menerima kebenaran.[7]
Berdasarkan dari penjelasan di atas bahwasanya
hakikat dakwah adalah sebuah transformasi nilai. Karena
itu, Pertama, ia harus terus berkembang seiring dengan perkembangan dan
perubahan dalam diri manusia dan kebudayaannya. Kedua, dakwah (Islam) tidak
harus dipahami sebagai bentuk “pemaksaan” para da’I atau muballigh kepada
“penerima transformasi” (mad’u) untuk memahami apa yang dimaksud dari yang
disampaikannya itu.[8]
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Konsep dakwah
terdiri dari dua
suku kata yaitu
konsep dan dakwah.
Konsep secara etimologi berarti rancangan, ide, atau apapun yang digunakan akal budi untuk memahami
sesuatu. Yang secara etimologi dakwah berarti seruan ajakan, atau panggilan.
Biasanya dakwah ini ditujukan ke seluruh umat muslim dengan menyampaikan
hal-hal yang berkaitan dengan ajaran yang terkandung dalam agama islam tanpa
ada unsur paksaan dalam penyampaiannya.
Dakwah
menurut sunnah adalah sebuah aktivitas mengajak/seruan kepada umat muslim untuk
mengikuti tata cara dan metode dakwah berdasarkan Rasul. Kata sunnah sendiri
sering kali kita kaitkan dengan hadist yang cenderung mengarah kepada Nabi
Muhammad SAW. Terkait sesuatu hal baik itu perbuatan, perkataan dan ketetapan.
Maka daripada itu kita sebagai manusia perlu untuk meneladani cara dalam berdakwah.
Hakikat
dakwah di dalam sebuah ayat Al-Qur’an adalah mengajak kepada Allah dengan
ahsanu qawla dan ahsanu ‘amala dengan
terlebih dahulu membuktikannnya dirinya sebagai da’i sebagai pemberi pesan
dakwah.
B. Saran
Demikian
penjelasan atau pembahasan terkait materi Landasan dan Konsep Dakwah dengan ini
kami sepenuhnya menyadari bahwa makalah yang dibuat masih jauh dari kata
sempurna. Semoga kedepannya kami dapat lebih fokus dan lebih detail dalam
menyusun sebuah makalah. Sekian pembahasan makalah yang kami buat, semoga
informasi yang kami sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua. Kurang lebihnya
mohon maaf, terimakasih.
;`
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Subandi,. Hakikat
dan Konteks Dakwah. Al Qalam 18.90-91
(2001): 74-93.
Aliasan, Aliasan. Metode
Dakwah Menurut Al-Quran. Palembang: IAIN Raden Fatah Palembang, Wardah 12.2
(2011): 143-151.
Alimuddin, Nurwahidah.
Konsep Dakwah Dalam Islam. HUNAFA: Jurnal Studia Islamika 4.1
(2007): 73-78.
Aliyudin.,
Prinsip-Prinsip Metode Dakwah Menurut
Al-Qur’an, Bandung: Dosen UIN SGD Bandung, Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 4 No. 15 Januari-Juni 2010.
Hadi, Sofyan. Epistemologi
Ilmu Dakwah. Al-Hikmah Vol.13
No.1 (2016).
Huda, Zainol. Dakwah
Islam Multikultural (Metode Dakwah Nabi SAW Kepada Umat Agama Lain). Religia
Vol. 19 No. 1, April 2016, Hlm. 89-112.
Nuwairah, Nahed. Dakwah
di Tengah Keragaman Masyarakat: Hakikat dan Strategi. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 13.25
(2017): 15-26.
[1] Nurwahidah Alimuddin,
Konsep Dakwah Dalam Islam. HUNAFA:
Jurnal Studia Islamika 4.1 (2007): 73-78. Hal. 74
[2] Aliasan, Aliasan. METODE
DAKWAH MENURUT AL-QURAN. Palembang: IAIN Raden Fatah Palembang, Wardah 12.2
(2011): 143-151. Hal. 146
[3] Ibid, . METODE
DAKWAH MENURUT AL-QURAN. Palembang: IAIN Raden Fatah Palembang, Wardah 12.2
(2011): 143-151. Hal. 148
[4] Aliyudin., Prinsip-Prinsip
Metode Dakwah Menurut Al-Qur’an, Bandung: Dosen UIN SGD Bandung, Jurnal
Ilmu Dakwah Vol. 4 No. 15 Januari-Juni 2010, Hal. 1019.
[5] Zainol Huda. Dakwah
Islam Multikultural (Metode Dakwah Nabi SAW Kepada Umat Agama Lain). Religia
Vol. 19
No. 1, April 2016, Hlm. 89-112, Hal. 107-108.
[6] Ahmad Subandi,. Hakikat
dan Konteks Dakwah. Al Qalam 18.90-91
(2001): 74-93., Hal. 75.
[7] Nahed Nuwairah,. Dakwah di Tengah Keragaman Masyarakat: Hakikat dan Strategi. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 13.25
(2017): 15-26. Hal. 16-19
[8] Sofyan Hadi,. Epistemologi
Ilmu Dakwah. Al-Hikmah Vol.13 No.1 (2016). Hal. 9