Trending

PROPOSAL IMPLEMENTASI ALAT PERMAINAN EDUKTIF (APE) TUTUP BOTOL PINTAR UNTUK MENGASAH PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI PART 2


 PROPOSAL IMPLEMENTASI ALAT PERMAINAN EDUKTIF (APE) TUTUP BOTOL PINTAR UNTUK MENGASAH PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI PART 2


Untuk Mendownload File Makalah ini klik 
Download File Di bawah ini



1.    Kajian Teoritik Tentang Aspek Kognitif Anak Usia Dini

a.    PengertianPerkembangan Kognitif

Istilah “cognitive” berasal dari kata kognition yang padanannya knowing, yang berarti mengetahui. Pada aspek perkembangan kognitif, kompetensi dan hasil belajar pada anak yang diharapkan adalah mampu danmemiliki kemampuan secara logis, dapat berpikir kritis, dapat memberi alasan, serta mampu dalam memecahkan masalah sehingga dapat menemukan sebab akibat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi[1]

Salah satu aspek yang mengalami perkembangan manusia adalah kognitif. Istilah kognitif (cognitive) berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui, dalam arti yang luas, cognition ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan. Dalam Kamus Lengkap Psikologi, cognition adalah pengenalan, kesadaran, pengertian. Selanjutnya istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain atau ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan kogintif adalah tahapan-tahapan perubahan yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia untuk memahami, mengolah informasi, memecahkan masalah dan mengetahui sesuatu. Sebagian besar psikolog terutama kognitivis berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia berlangsung sejak ia baru lahir. Pendayagunaan kapasitas ranah kognitif manusia sudah mulai berjalan sejak mendayagunakan sensor dan motoriknya.[2]

Perkembangan kognitif menjadi bagian dari studi tentang psikologi perkembangan. Brich berpendapat bahwa sebagai studi  dari perubahan psikologis mulai dari sejak lahir sampai usia lanjut. Kajian kognitif difokuskan pada bagaimana anak secara aktif membangun pikiran mereka, kemudian bagaimana perubahan berpikir dari satu tahap ketahap berikutnya dalam suatu perkembangan.

Oakley mengemukakan bahwa Kata kognitif berasal dari Bahasa latin yaitu cognoscere yang artinya untuk mengtahui (to know). Aktivitas kognitif termasuk didalamnya yaitu semua proses dan aktifitas psikologis yang melibatkan berpikir (thinking) dan mengetahui (knowing). Menurut Berk lebih rinci menjelaskan bahwa cognition refers to the inner processes and products of the mind that lead to “knowing”. It includes all mental activity- attending, remembering, symbolizing, categoring, planning, reasoning, problem solving, creating, and fantasizing.

Bukatko & Daehler berpendapat bahwa mendefinisikan kognisi sebagai suatu proses yang melibatkan kegiatan berpikir dan aktivitas mental seperti atensi (attention), memori (memory) dan pemecahan masalah (problem solving).

Dari berapa definisi ini dapat diketahui bahwa proses kognitif merupakan proses mental yang terjadi dalam diri atau pikiran seseorang, sehingga proses kognitif atau aktivitas kognitif tidak dapat diamati (unobservable). Namun demikian secara sederhana kognitif merupakan suatu aktivitas yang melibatkan kegiatan berpikir seperi meningkat, simbolisasi, membuat kategori, merencanakan, memcahkan masalah, mencipta dan bahkan berpantasi.[3]

Bredekamp berpendapat bahwa perkembangan kognitif yaitu secara umum terdiri dariberpikir, intelegensi, kemampuan Bahasa.Secara singkat Brewer menyebutkan bahwa perkembangan kognitif mengarah pada perkembangan berpikir anak dan kemampuan membuat alasan (reasoning).Lebihrinci perkembangan kognitif dikemukakan oleh Berk yaitu perubahan-perubahan yangterjadi pada kemampuan intelektual, termasuk didalamnya atensi (attention), memori (memomry), pengetahuan akademis dan pengetahuan sehari-hari (academic and everyday knowledge), pemecaan masalah (problem solving), imajinasi (imagination), kreativitas(creativity), dan Bahasa (language). Perubahan-perubahan pada aktivitas mental dalam perkembangan kognitif tentunya mengarah pada tingkat kematangan dan kompleksitas struktur kognitif pada anak.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitif yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada sturktur kognitif yang melibatkan aktivitas mental seperti berpikir, mengingat, imajinasi, pemecahan masalah, kreativitas, Bahasa, intelegensi, kemampuan membuat alasan. Perubahan sturuktur kognitif dari proses aktivitas mental tersebut menjadi lebih matang dan kompleks dan memiliki fungsi yang lebih baik[4].

b.   Tahapan Perkembangan Kognitif

J. Piaget berpendapat bahwa ada 4 (empat) tahap perkembangan kognitif yaitu tahap perkembangan sensorimotor (sensorimotor),praoperasional (preoperational), operasional konkrit (concreate operational) dan operasional formal (Formal Operational). Tahapan perkembangan kognitif

1)   Periode sensorimotor

Pada tahap ini merupakan periode awal perkembangan anak. Yaitu usia 0-2 tahun, Periode ini dimulai dari semenjak anak lahir sampai dengan usia dua tahun. Interaksi anak dengan lingkungannya lebih dominan dilakukan melalui sensori atau indera dan fisik motoric.

Maka diakhir periode sensorimotor ini gerak motoric anak akan semakin komplek dan dapat dikendalikan oleh anak. Selain kemampuan Gerak motoriknya yang semakin matang di akhir-akhir periode ini juga anak sudah menggunakan simbol-simbol primitive atau sudah mulai muncul kemampuan berpikir simboliknya.Setidaknya ada dua hal yang menonjol dari tahap perkembangan sensorimotor yaitu pertama munculnya gerak-gerak reflektif diawal periode ini dan secara perlahan gerak- gerak ini dapat di kendalikan oleh anak dan kemampuan gerak anak semakin kompleks. Kedua yaitu munculnya penggunaan symbol-simbol oleh anak walaupun masih sederhana, namun setidaknya pada tahap ini kemampuan berpikir simbolik anak mulai muncul.[5]

Pada tahap ini disebut sensori motor karna pembelajaran pada anak hanya melibatkan panca indra saja. Anak belajar mengetahui dunianya dengan mengandalkan indranya seperti mengisap, menangis, menelan, melihat, mendengar, serta merasakan.[6]

2)   Praoperasional.

Tahap perkembangan kognitif praoperasional terjadi pada anak usia 2 tahun sampai dengan usia 7 tahun. Jika memperhatikan usia anak prasekolah mulai dari taman penitipan anak (TPA), Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK), mereka semua berada direntang usia 2-7 tahun. Ini artinya bahwa tahap perkembangan kognitif anak prasekolah berada pada tahap praoperasional.Pada tahap praoperasional anak mulai merepresentasikan lingkungan yang ada disekitarnya melalui kata-kata, gambar, dan kegiatan menggambar.

Dunia kognitif pada masa anak prasekolah diwarnai dengan kegiatan yang kreatif, bermain bebas dan juga fantasi. Pada usia ini Imajinasi anak terus bekerja sepanjang waktu, dan ini akan berdampak pada kemampuan mental anak yang terus berkembangan. Pada tahap ini juga mulai muncul kemampuan bernalar, egosentris, dan juga mulai terbentuk kepercayaan pada hal-hal magis.[7]

Pada tahap ini konsep yang stabil di bentuk, penalaran muncul, egosentris sudah mulai kuat kemudian mulai lemah, dan keyakinan pada hal yang magis. Dalam istilah pra-operasional menunjukkan pada tahap ini teori piaget fokus pada keterbatasan pemikiran pada anak. Istilah pada ”operasional” menunjuk pada aktifitas mental yang dapat memungkinkan anak berpikir pada pengalaman peristiwa yang pernah dialaminya[8]

3)   Operasional konkrit.

Tahap perkembangan operasional konkret (concreate operational) merupakan tahap perkembangan kognitif yang ketiga menurt Piaget.Tahap perkembagan ini merupakan masa perlihan dari berpikir praoperasional menjadi berpikir operasional konkret. Tahap perkembangan ini berlangsung dari sekitar usia 7 sampai usia 11 tahun. Pada tahap ini anak mulai meninggalkan berpikir intuitif dan mulai menuju berpikir yang lebih logis atau rasional. Hal yang sama dikemukakan oleh Berk bahwa berpikir anak pada operasional konkret lebih logis, fleksibel, dan terorganisir dari sebelumnya, lebih mirip dengan penalaran orang dewasa daripada anak- anak yang lebih kecil.Berkembanganya kemampuan nalar secara logis tentunya ini akan memberikanpengaruh terhadap sudut pandang anak dalam memandang dunia yang ada disekitarnya.

Kegiatan berpikir intuitif sedikit demi sedikit mulai mengalami perkembangan kearahyang lebih logis, sehingga anak tidak lagi tertipu dengan penampilan atau benda yangdimanipulatif seperti yang terjadi di tahap praoperasional. Mulai berkembangnyakemampuan berpikir secara sistematis memungkinkan anak menjadi lebih baik didalammemahami tentang, jumlah, volume, maupun panjang. Pada tahap operasional konkret ini ada beberapa kemampuan anak yangperkembangannya tercapai dengan baik. Menurut Santrock menyebutkan ada empatkemampuan yang dapat dicapai pada tahap perkembangan ini yaitu konservasi(conservation), klasifikasi (classification), Seriasi (seriation), dan transitivitas (transitivity). 

Hal yang hampir sama dikemukakan oleh Shaffer  yang menyebutkan ada tiga kemampuan yang dapat dicapai pada tahap iniyaitu konservasi (conservation), logika rasional (Relational logic), pengurutan operasi secara konkret (the sequencing of concrete operations). Kemudian pendapat berikutnya yaitu yang dikemukakan oleh Berk  yang menyebutkan ada tiga kemampuan yang dicapai pada tahap ini yaitu konservasi (conservation), klasifikasi (classification), Seriasi (seriation), dan penalaran spasial (spatial reasoning).  Dari ketiga pendapat ini terlihat jelas memiliki kesaman walaupun penggunaan kata atau istilah yang berbeda.[9]

Anak-anak ditingkatkan operasi-operasi dalam berpikir konkrit sanggup memahami dua aspek dalam satu persoalan secara serentak. Dalam interaksi sosialnya, mereka juga memahami bukan hanya apa yang mereka katakan, tapi kebutuhan pendengaraannya[10]

4)   Tahap operasional formal.

Tahap operasional formal ada pada rentang usia 11 tahun-dewasa. Pada fase ini dikenal juga dengan masa remaja. Remaja berpikir dengan cara lebih abstrak, logis, dan lebih idealistic.

Tahap operasional formal, usia sebelas sampai lima belas tahun. Pada tahap ini individu sudah mulai memikirkan pengalaman konkret, dan memikirkannya secara lebihabstrak, idealis dan logis.Kualitas  abstrak dari pemikiran operasional formal tampak jelas dalam pemeca-han problem verbal. Pemikir operasional konkret perlu melihat elemen konkret A, B, dan C untuk menarik kesimpulan logis bahwa jika A = B dan B = C, maka A = C. Sebaliknya pemikir operasional formal dapat memecahkan persoa-lan itu walau problem ini hanya disajikan secara verbal.

Selain memiliki kemampuan abstraksi, pemikir operasional for-mal juga memiliki kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan. Pada tahap ini, anak mulai melakukan pemikiran speku-lasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka dan diri orang lain. Konsep operasional formal juga menyatakan bahwa anak dapat mengembangkan hipotesis deduktif tentang cara untuk memecahkan problem dan mencapai kesimpulan secara sistematis.[11]

A.  Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan sebuah uraian mengenai cara atau langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian untuk mencari sebuah keenaran yang menyangkut pendekatan, kehadiran peneliti, lokasi peneiti, sumber data analisis data, pengecekan keabsahan data, serta tahap-tahap penelitian

1.    Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pengertian penelitian kualitatif dekriptif dalam rancangan pada penelitian ini yang diajukan oleh penulis yaitu implementasi alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak, dimana pada masa saat ini anak perlu dikenalkan pada hal-hal yang menarik yang akan ditemui anak pada masa-masa selanjutnya. Hal ini memiliki tujuan agar dapat meningkatkan perkembangan kognitf pada anak.

Adapun yang dimaksud peneliti dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan deskriptif yakni peneliti ingin menggambarkan secara deskriptif tentang implementasi alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar, namun dalam penelitian ini peneliti hanya fokus pada penggunaan alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah kemampuan kognitif anak kelompok A di lembaga RA Miftahul Ulum Secang Dempo Barat Pasean Pamekasan.

2.    Kehadiran Peneliti

Pada penelitian ini kehadiran seorang peneliti sangatlah penting. Pada penelitian kualitatif kehadiran peneliti dilapangan adalah mutlak diperlukan. Peneliti berusaha berinteraksi dengan informan secara alamiah, tidak menonjol dan dengan cara tidak memaksa. Pada penelitian ini, selain berinteraksi dengan anak terdapat juga tujuan untuk memperoleh data dan informasi terkait dengan masalah yang sedang diteliti. Sehingga dengan kehadiran peneliti akan membantu dalam mengetahui secara langsung situasi dan kondisi dilapangan yang sebenarnya. Peneliti dalam hal ini bertindak sebagai instrumen atau pengumpul data sekaligus pengamat. Sehingga ini menjadi alasan utama mengapa peneliti wajib hadir dalam penelitian tersebut.

3.    Lokasi Penelitian

Pada penelitian ini peneliti mengambil lokasi penelitian yang telah di pilih peneliti untuk bahan penelitian skripsipeneliti, yaitu di RA Miftahul Ulum Secang Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan. Adapun salah satu hal yang menjadi pertimbangan peneliti dalam pemilihan lokasi pada penelitian ini yakni karena lokasi di RA Miftahul Ulum Secang Dempo Barat sangat mudah dijangkau oleh peneliti dan peneliti merasa mudah dalam mendapatkan berbagai informasi serta data yang dibutuhkan sebab lembaga tersebut berada dalam satu naungan yayasan di RA Miftahul Ulum Secang Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan.

Selain itu, RA Miftahul Ulum Secang Dempo Barat Pasean Pamekasan juga merupakan lembaga pendidikan swasta yang peneliti dapati permasalahan pelaksanaan pembelajaran pada anak usia dini di dalamnya, dengan berbagai faktor penghambat atau kendala, dan nantinya sangat mengharapkan peneliti dapat mengurangi berbagai kendala dari pelaksanaan pembelajaran yang dialami lembaga setelah dilaksanakan dan terselesaikannya penelitian ini.

4.    Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah, subyek dari mana data diperoleh. Pada penelitianini, peneliti menggunakan sumber data atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun tidak terlulis/lisan.[12]

Pada penelitian ini menggunkan dua sumber data yaitu, sumber data sprimer adalah sumber data yang di peroleh secara langsung seperti halnya wawancara. Sedangkan sumber data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui sumber data lain seperti buku.

5.    Prosedur Pengumpulan Data

Untuk mempermudah dalam pelaksanaan studi lapangan dan memperoleh data-data yang diperlukan maka prosedur pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut;

a.    Observasi

Observasi adalah bagian dalam pengumplan data, observasi merupakan suatu penyelidikan yang dilakukan secara sistematik dan sengaja diakan dengan menggunakan alat indra terutama mata terhadap kejadian yang langsung dan dapat di analisis pada waktu kejadian tersebut[13]. Metode observasi merupakan cara yang baik untuk mengawasi perilaku subjek penelitian seperti perilaku dalam ruangan atau lingkungan, waktu erta keadaan tertentu. Pada observasi ini, observasi yang akan digunakan peniliti dalam penelitian ini berupa observasi partisipan yakni peneliti ikut serta dalam kegiatan pembelajaran.

b.     Wawancara

Wawancara adalah suatu percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara. Wawancara merupakan salah satu dari beberapa tekhnik dalam mengumpulkan informasi atau data.[14]Wawancara adalah sebuah metode pengambilan data dengan cara menanyakan kepada kepala sekolah atau sebagian guru. Caranya yaitu dengan bercakap-cakap secara langsung atau tatap muka, wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara atau menggunakan tanya jawab langsung.[15]Wawancara disini merupakan bentuk pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif

Sebagaimana yang dikutip oleh sugiyono yaitu mengemukakan macama-macam wawancara, yaitu wawancara tersetruktur, semiterseteruktur, dan tidak terseteruktur.[16]

Macam-macam wawancara diantaranya:

1.    Wawancara tersetruktur

Adalah wawancarayang pengumpulan datanya telah menyiapkan isntrumen berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah di siapkan. Dengan menggunakan wawancara ini setiap responden di beri pertanyaan pengumpulan datanya menggunakan catatan.

2.    Wawancara semitersetruktur

Adalah jenis wawancara yang termasuk kedalam jenis kategori in-deptinterviuw, dimana pelaksanaan pada wawancara ini lebih bebas dibandingkan dengan wawancara struktur tujuan pada wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan yang lebih terbuka, dimana pihak yang di wawancara dapat memberikan ide-idenya dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang di kemukakan oleh informan.

3.    Wawancara tak berstruktur

Adalah jenis wawancara yang bebas, dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman yang digunakan dalam wawancara ini hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan

Dalam penelitian ini peneliti mewawancarai kepala sekolah dan juga guru di RA Miftahul Ulum Secang Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan. Adapun tipe wawancara dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan wawancara semitersetruktur dikarenkan menurut peneliti dengan menggunakan tipe wawancara tersebut akan mempermudah peneliti dalam mendapatlan informasi tentang implementasi alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini di lembaga tersebut.

c.    Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya berarti barang tertulis, metode dokumentasi yaitu tata cara pengumpulan data dengan mencatat data-data yang sudah ada. Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam dalam menelusuri data. Tekhnik atau studi dokumentasi adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan arsip-arsip yang artinya termasuk juga buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan-catatan harian dan lain sebagainya[17]. Dokemntasi ini digunakan  untuk memperoleh data yang dapat menunjang dalam penelitian ini di RA Miftahul Ulum Secang Desa  Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan yaitu berupa foto maupun bentuk tulisan.

6.    Analisis Data

Noeng muhadjir mengemukakan pengertian analisis data yaitu sebagai upaya mencari dan menata secara sistematis dalam catatan hasil obeservasi, wawancara, dan lainnya sehingga dapat meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupamencari makna.

Dari pengertian tersebut terdapat beberapahal yang perlu di garis bawahi yaitu: (a) upaya mencari data adalah proses lapangan dengan berbagai persiapan pralapangan, (b). Menata sistematis hasil dari temuan di lapangan, (c). Menyajikan temuandilapangan, (d). Mencari makna, pencarian makna secara trus menerus sehingga tidak ada lagi makana lain yang memalingkannya, disini perlu peningkatan pemahaman bagi peneliti terhadap kejadian atau kasus yang terjadi[18]

a.    Reduksi data

Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian dan penyederhanaan, transformasi dan pengabstrakan data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Proses ini dapat berlangsung secara terus menerus, selama penelitian ini berlangsung. Meringkas hasil dari pengumpulan data kedalam konsep, tema-tema, katgori, itulah kegiatan reduksi data.

Pengumpulan data dan reduksi data saling berinteraksi melalui konklusi dan penyajian data, ini tidak bersifat sekali jadi, tetapi secara bolak balik dan perkembangannya bersifat sekuensial, interaktif bahkan melingkar. Kompleks permasalahan bergantung pada analisis.[19]

Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk data atau lapoan yang terperinci. Laporan yang disusun berdasarkan data yang didapat oleh direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok dan difokuskan pada hal-hal yang penting. Data dari hasil mengihtiarkan dan memilih-milih berdasarkan satuan konsep, tema, dan kategori tertentu yang akan memberikan gambaran lebih tajam tentang hasil pengamatan serta dapat mempermudah peneliti untuk mencarikembali data sebagai tambahan atau data sebelumya yang diperoleh jika diperlukan.[20]

b.    Display data/penyajian data

Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehinggadapat memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan sebuah tindakan. Bentuk penyajian pada data kualitatif dapat berupa teks naratif berbentuk catatan lapangan, matriks, grafik, jaringan dan bagan. Bentuk-bentuk tersebut dapat menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, sehingga dapat memudahkan untuk melihat apa yang sedang terjadi, apakah kesimpulannya sudah tepat atau sebaliknya melakukan analisis kembali[21]

c.    Kesimpulan/verifikasi

Dari kegiatan-kegiatan sebelumnya, langkah berikutnya adalah menyimpulkan dan melakukan verifikasi atas data-data yang sudah diproses atau ditransfer dalam bentuk yang sesuai dengan pola pemecahan permasalahan yang dilakukan[22].

7.    Pengecekan Keabsahan Data

Untuk mengetahui keabsahan data-data yang diperoleh, maka peneliti berusaha untuk mengeceknya secara teliti agar penelitian yang dilakukan tidak sia-sia. Tehnik-tehnik yang digunakan peneliti untuk mengukur keabsahan temuan adalah sebgai berikut:

a.    Perpanjangan pengamatan peneliti

Pada tahap awal peneliti memasuki lapangan, peneliti masih dianggap sebagai orang asing, masih dicurigai, sehingga informasi yang dilakukan masih belum lengkap. Dengan adanya perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin akrab (tidak ada jarak lagi), dalam perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data penelitian yaitu dengan cara melakukan pengamatan apakah data yang telah diperoleh sebelumnya itu benar atau tidak ketika di cek lagi kelapangan. Apabila sudah benar maka pengamatan dapat diakhiri oleh penelti

b.    Meningkatkan ketekunan/ keajengan pengamatan

Peneliti dapat meningkatkan ketekunan dalam bentuk pengecekan kembali apakah data yang te;ah ditemukan itu benar atau tidak, dengan cara membaca berbagai refrensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi yang terkait, sehingga wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam.[23]

Pengamatan bukanlah suatu teknik pengumpulan data yang hanya mengandalkan kemampuan pancaindra namun juga menggunakan semua pancaindra termasuk pendengaran, perasaan dan insting peneliti. Dengan meningkatkan ketekunan pengamatan lapangan, maka derajat keabsahan data telah ditingkatkan pula. Ketekunan dan pengamatan dalam penelitian ini sangat dibutuhkan untuk bisa menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang diteliti, kemudian hal tersebut dapat dikomentari secara logis dan diharapakan dapat menemukan solusi untuk persoalan yang terdapat dalam mengecek data antara data sementara, data sebelumnya, dan data berikutnya, baik dengan wawancara maupun melalui pengamatan seperti yang di jelaskan sebelumnya.

c.    Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pengecekan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding bagi data tersebut. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainya. Triangulasi dapat dibedakan menjadi empat macam triangulasi sebagai tehnik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Triangulasi melalui sumber berarti membangdingkan data dan mengecek balik kepercayaan sutau informan yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Tringulasi juga bisa disebut dengan teknik atau cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi yang ada pada suatu konteks studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan kejadian dari berbagai pandangan.

Empat macam triangulasi yaitu. Triangulasi sumber, metode, peneliti dan teoritik, sebagai berikut:

1)   Triangulasi sumber.

Triangulasi sumber adalah menggali sbuah kebenaran informasi tertentu melalui berbagai sumber agar memperoleh data. Pada triangulasi sumber yang terpenting adalah mengetahui adanya alasan-alasan terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut.

2)   Triangulasi metode.

Triangulasi metode adalah mengecek keabasahan data, atau mengecek keabsahan temuan peneliti. Triangulasi menggunakan metode dengan cara membangdingkan informasi atau data dengan cara yang beda. Conthnya membandingkan hasil pengamatan yang diperoleh saat wawancara, membandingkan apa yang dikatakan didepan umum dengan apa yang dikatan secara pribadi. Membandingkan hasil wawancara dengan dokumentasi

Sumber data sama

Observasi partisipatif pasif

Dokumentasi

In-depth interview

 

 

 

 

 

 


Gambar 1.1 Tringulasi “Teknik” Pengumpulan Data.

 

Wawancara Mendalam

Guru

KepalaSekolah

 

 

 

 

 


Gambar 1.2 Tringulasi “Sumber” Pengumpulan Data.

 

3)   Triangulasi peneliti.

Triangulasi peneliti yaitu menggunakan lebih dari satu peneliti dalam mengadakan wawancara dan observasi.

4)   Triangulasi teoritik

Triangulasi teoritik adalah memanfaatkan dua teori atau lebih untuk di padu dan diadu[24]

8.    Tahap-tahap Penelitian

Tahap-tahap penelitian memberikan gambaran tentang keseluruhan perencanaan, pelaksaan dalam pengumpulan data, analisis penafsiran data sampai penulisan laporan.  Menurut Lexy J. Melong mengemukakan tahapan ini terdiri dari tahap pra lapangan, tahap pekerjaan dan tahap analisis lapangan[25]. 

a.    Tahap pra lapangan

Pada tahap ini terbagi lagi menjadi enam tahap yakni sebagai berikut:

1)   Menyusun rancangan penelitian

2)   Memilih lokasi penelitian.

3)   Mengurus perizinan penelitian

4)   Menjajaki dan menilai lokasi penelitian

5)   Memilih dan memanfaatkan informasi yakni memilih dan memanfaatkan orang untuk memberi informasi tentang situasi dan kondisi pada penelitian di RA Miftahul Ulum Secang Dempo Barat Pasean Pamekasan.

6)   Menyiapkan perlengkapan penelitian

7)   Persoalan etika penelitian, adalah etika peneliti yang sangat diperhatikan karena etika merupakan gambaran dari baik buruknya akhlak pada peneliti.[26]

b.    Tahapan pekerjaan lapangan

Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian. Tahapan pekerjaan lapangan terbagi menjadi tiga tahap yaitu sebagai berikut:

1)   Memahami latar penelitian dan persiapan diri

2)   Memasuki lapangan

3)   Berperan serta dalam mengumpulkan data dengan cara pengarahan batas studi dan mencatat data

c.    Tahap analisis data

Tahap ini merupakan tahap dimana peneliti melakukan analisis data yang telah diperoleh, baik dari informan maupun dokumen-dokumen pada tahap sebelumnya, pengorganisasian serta memaparkan dengan mendeskripsikan hasil temuannya.

Dalam hal ini yang dilakukan dengan data mengorganisasikan data, memilah-milihnya menjadi satuan yang bisa dikelola, mengasistensi, mencari dan menemukan pola apa yang penting dan apa yang akan dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan terhadap orang lain.[27] Dengan demikian tahap analisis data terdiri dari pengorganisasian data dan kategori serta menceritakan atau mendeskripsikan data yang diperoleh dalam bentuk laporan penulis.

B.  Sistematika Pembahasan

Pada bagian ini peneliti akan mengemukakan sistematika pembahasan peneitian yang terdiri dari bab pertama sampai dengan bab lima, sebagai berikut:

BAB I adalah pendahuluan, pada bab ini membhas secara global yang meliputi, konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, alasan pemilihan judul, ruang lingkup penelitian dan sistematika pembahasan.

BAB IIadalah karangka Teori, pada bab ini kajian teoritis tentang pengertian Alat Permainan Edukatif (APE) pada anak usia dini.

BAB III adalah metode penelitian, yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, dan pengecekan keabsahan data.

BAB IV adalah  paparan data, temuan penelitian dan pembahasan penelitian.

BAB V adalah   kesimpulan dan saran, yaitu berisi kesimpulan dari seluruh hasil laporan penelitian penulis dengan disertai saran-saran bagi pihak-pihak yang terkait permasalahan yang penulisngkat dalam penelitian ini.

 

C.  Daftar rujukan

Sunanih, Kemampuan membaca Abjad bagi anakusia dini bagian dari perkembangan bahasa. Jurnal pendidikan,vol. 1(1).( 2017)

Filtri. Heleni& Al Khudri Sembiring,Perkembangan kognitif anak usia dini ditinjau dari tingkat pendidikan ibu di PAUD kasih ibu kecamatan rumbai. Jurnal pendidikan anak usia dini, vol. 1(2). (2018).

Hijriati,Peranan dan manfaat api untuk kreativitas anak usia dini. Jurnal, vol(2). (2017)

Mutmainnah. Nurma,Peningkatan kemampuan kognitif anak melalui media tutup botol di TK melati Mon pasong Aceh barat. Jurnal, vol. V(2). (2019)

Hasil observasi Yang di lakukan pada 16 Desember 2021

Mujib. Fathul &Nailur Rahmawati. Metode permainan-permainan edukatif dalam belajar anak,Yogyakarta: Diva press, 2013

Susanto. Ahmad, perkembangan anakusiadini, Jakarta: Kencana, 2011

https://www.halodoc.com/artikel/4-tahapan-perkembangan-kognitif-si-kecil-dalam-teori-piaget#:-:text=%E2%80%9CPerkembangan%20kognitif%20anak%20mengacu%20pada,berbeda-beda%20pada%20pada%20tiap%20anak. Diakses pada, hari selasa 01-11-2022, jam 05:25

http://www.okemom.com/adeea123/o34K08m/mom-ini-perbedaan-kelompok-bermain-paud-dan-taman-kanak-kanak diakses pada hari selasa, 01-11-2022, jam 05:40

Marinda. Leny, teori perkembangan kognitif jean piaget dan problematikanya pada anak usia sekolah dasar Jurnal Kajian Perempuan & Keislaman (vol 13(1), 2020).

Titik. AhmadAfandi, Pengaruh mediatutup botol bekas minuman terhadap kemampuan membilang. Jurnal Audi. (Vol III, (2), 2018)

Novita. Ani & Syahrul Ismet.Peningkatan kemampuan mencocokkan angka melalui permainan tutup botol pintarditaman kanak-kanak aba Simpang tiga Pasaman barat. Jurnal ilmiahpesona PAUD. Vol 5(2), (2018)

Kartikasari. Rafika, Meningkatkan kemampuanberhitung menggunakan media tutup botol untuk anak-anak kelompok b TK dharma wanita 1 gayam kecamatan gurah kabupaten Kediri tahun ajaran 2014-2015

Virdyna. Nina Khayatul, Media Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini. duta media:pamekasan 2019

http://madaniah.co.id/tahap-bermain-anak-usia-dini/ diakses pada 01-12-2022, jam 12:25

http://madaniah.co.id./product/alat-peraga-edukatif-menara-pelangi-segitiga/ diakses pada 01-12-2022, jam 12:40

http://anggunpaud.kemendikbud.go.id/berita/index/20180903123905/ diakses pada 01-12-2022, jam 12:50

http://sekolahkudirumah.com/pembelajaran-konsep-pola/ diakses pada  01-12-2022, jam 13-50

Nigsih. Tutuk,Pengembangan alat permainan edukatif.Istana Agency: Yogyakarta (2018)

Kusuma. Tesa Cahyani & Heni listiana, pengembangan pembuatan APE bagi anak usia dini. Kencana: Jakarta (2021)

Mu’min. Sitti Aisyah, Teori perkembangan kognitif Jean piaget. Jurnal Al-Ta’dib. Vol 6(1), (2013).

Sutisna. Icam & Sri Wahyuningsi Laiya. Metode pengembangan kognitif anak usia dini. Gorontalo: UNG Press 2020

Menentukan sumber data, universitas negeri yogyakarta. (2013). 2

Edi. Fandi rosi sarwo, teori wawancara  psikodiagnostik. yogyakarta: leutikaprio,2016

Afifuddin& Beni Ahmad Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Pustaka Setia, (2012)

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif  Bandung: Alfabeta, 2014

Kawasati. IryanaRisky,tekhnik pengumpulan data metode kualitatif. STAIN SORONG.

Rijali. Ahmad,analisis data kualitatif, jurnal alhadharah. Vol 17( 33). (2018)

Mkerisce. Arnild Augina, teknik pemerikasaan keabasahan data pada penelitian kualitatif,  jurnal ilmah kesehatan masyarakat.vol. 12(3) (2020).

Sidiq. Umar & moh. Miftachul choiri/ metodepenelitian kualitatif di bidang pendidikan,ponorogo: CV. Nata Karya.2019

 

D.  Lampiran

1.    Pedoman Wawancara

a.    Wawancara kepada pihak kepala sekolah di RA Miftahul Ulum Secang Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan

1)   Apa yang digunakan dalam mengasah perkembangan  kognitif anak yang diterapkan pada yayasan ini? 

2)   Sejak kapan alat permianan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelompok A diterapkan?

3)   Mengapa menggunakan alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelopok A?

4)   Bagaimana penggunaan implementasi alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelopok A?

5)      Apa sajakah manfaat pada implementasi alat permainan edukatif (APE) Tutup Botol Pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini Kelompok A di RA miftahul ulum secang Desa Dempo barat kecamatan Pasean kabupaten Pamekasan?

b.    Wawancara kepada Guru di RA Miftahul Ulum Secang Desa Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan

1)   Faktor apa saja yang dapat menghambat dan mendukung dalam implementasi alat permainan eduktif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelompok A pada lembaga ini?

2)   Apa yang digunakan dalam mengasah perkembangan  kognitif anak yang diterapkan pada yayasan ini? 

3)   Sejak kapan alat permianan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelompok A diterapkan?

4)   Mengapa menggunakan alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelopok A?

5)   Bagaimana penggunaan implementasi alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelopok A

2.    Pedoman observasi

Observasi yang dilakukan peneliti berpedoman pada hal-hal sebagai berikut:

a.    Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan pembelajaran dalam implementasi alat permainan edukatif (APE) tutup botol pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini kelompok A di dalam kelas.

b.    Observasi dilakukan untuk mengamati Implementasi alat permainan edukatif (APE) Tutup Botol Pintar untuk mengasah perkembangan kognitif anak usia dini di lembaga RA Miftahul Ulum Secang

c.    Observasi dilakukan untuk mengamati permasalahan atau kendala yang biasa terjadi dalam Implementasi alat permainan edukatif (APE) Tutup Botol Pintar untuk mengasah perkembangan kognitif  anak usia dini kelompok A

No

Kegiatan

Ya

Tidak

1.

Pembukaan:

a. Mengucapkan salam

b. Berdoa

c. Senam bersama

d. Bersikap rapi

 

 

2.

Inti

a.  Mengamati

• Anak mengamati penjelasan cara bermain dari tutup botol pintar

b. Menanya

• guru menanyakan berapa tutup botol yang ada di dalam karet

• guru menanyakan warna tutup botol yang ada di dalam karet

• guru menanyakan angka pada tutup botol yang di ada di dalam tutup botol

• guru menanyakan bentuk geometri pada tuup botol yang ada di dalam karet tersebut

c. Menjawab

• guru menjawab pertanyaan yang anak tanyakan

d. Mengumpulkan informasi, menalar

• anak di suruh maju satu-satu ke depan untuk memainkan tutup botol pintar

 

 

3.

Istirahat

- Bermain bebas di halaman sekolah

 

 

4.

Penutup

a. Recalling

b. Menanyakan perasaan hari ini

c.Menanyakan pada anak apakah senang pembelajaran hari ini

d. Do'a

 

 

 

3.    Pedoman dokumentasi

a.    Profil RA Miftahul Ulum Secang Dempo Barat Pasean Pamekasan.

b.    Foto kegiatan pada saat pembelajaran berlangsung.

c.    Foto pada saat kegiatan wawancara dengan tenaga kependidikan di RA Mitahul Ulum Secang Dempo Barat Pasean Pamekasan.

d.   Data prestasi siswa dalam menghitung.

 



[1]Ibid. 35

[2]Sitti Aisyah Mu’min, Teori perkembangan kognitif Jean piaget. Jurnal Al-Ta’dib. (Vol 6, (1), 2013). 89-90

[3]Icam Sutisna & Sri Wahyuningsi Laiya. Metode pengembangan kognitif anak usia dini. (Gorontalo: UNG Press 2020). 3

[4]Ibid. 4

[5]Icam Sutisna & Sri Wahyuningsi Laiya. Metode pengembangan kognitif . 20-21

[6]Hijriati. Tahapan perkembangan kognitif pada masa EARLY CHILDOOD (VOL 1(2). 2016). 39

[7]Icam Sutisna & Sri Wahyuningsi Laiya. Metode pengembangan kognitif . 26

[8]Hijriati. Perkembangan kognitif. 39-40

[9]Icam Sutisna & Sri Wahyuningsi Laiya. Metode pengembangan kognitif . 32-33

[10]Hijriati. Perkembangan kognitif.  42

[11]Leny Marinda teori perkembangan kognitif jean piaget dan problematikanya pada anak usia sekolah dasar Jurnal Kajian Perempuan & Keislaman (vol 13(1), 2020). 126

[12]Menentukan sumber data, universitas negeri yogyakarta. 2013. 2

[13]Iryana. Risky kawasati, tekhnik pengumpulandata metode kualitatif. STAIN SORONG. 9-10

[14] Fandi rosi sarwo edi, teori wawancara  psikodiagnostik. (yogyakarta: leutikaprio,2016). 1

[15] Afifuddin, Beni Ahmad Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), 131.

[16] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif  (Bandung: Alfabeta, 2014), 73.

[17]Ibid. 11

[18] Ahmad rijali, analisis data kualitatif, jurnal alhadharah. (Vol 17( 33). 2018). 84

[19]Ibid. 91-92

[20]Asep suryana, tahap-tahap penelitian kualitatif, 2007.9

[21] Ahmad rijali, analisis data kualitatif, 94

[22] Asep suryana, tahap-tahap penelitian kualitatif, 10

[23] Arnild Augina Mekrisce, teknik pemerikasaan keabasahan data pada penelitian kualitatif,  jurnal ilmah kesehatan masyarakat. ( vol. 12(3)2020). 150

[24]Ibid. 150

[25]Umar sidiq,& moh. Miftachul choiri/ metodepenelitian kualitatif di bidang pendidikan, ( ponorogo: CV. Nata Karya.2019) , 34

[26]Ibid 35-36

[27]Ibid 37-38

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak