Trending

SKRIPSI PROSES MORFOFONEMIK BAHASA KEDUA ORANG MADURA


 PROSES MORFOFONEMIK BAHASA KEDUA ORANG MADURA DALAM ACARA KOMPOLAN MALAM KAMIS DI DESA KARDULUK


Untuk Mendownload File Makalah ini klik 
Download File Di bawah ini


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Konteks Penelitian

Bahasa merupakan sebagai alat komunikasi bagi manusia untuk berkomunikasi baik antar individu maupun kelompok. Dengan bahasa kita bisa berinteraksi dengan orang lain untuk menyampaikan informasi ataupun menerima informasi. Bahasa tidak hanya dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi bahasa juga diperlukan untuk menjalankan aktivitas manusia. Seperti penelitian, penyuluhan, pemberitaan, bahkan untuk menyampaikan pemikiran, pandangan serta perasaan. Bidang-bidang seperti ilmu pengetahuan, hukum, kedokteran, politik, Pendidikan rupanya juga memerlukan peran bahasa. Karena hanya dengan bahasa manusia mampu mengomunikasikan segala hal. Bahasa mungkin bukan satu-satunya alat komunikasi manusia, selain juga dikenal isyarat, aneka simbol, kode, bunyi, semua itu akan bermakna setelah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila bahasa disebut sebagai alat komunikasi terpenting bagi umat manusia. Dengan demikian, bahasa merupakan hal yang paling hakiki dalam kehidupan manusia sebagai alat komunikasi dan interaksi yang dimiliki oleh manusia.[1]

 

 

 

 

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk berkerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sementara dalam kamus oxford, bahasa diartikan sabagai sebuah sistem komunikasi lisan dan tulisan yang digunakan manusia pada masing masing negara.

Mario menyatakan bahwa adalah sebuah sistem dari komunikasi dengan bunyi yang dioperasikan melalui organ bicara dan pendengaran diantara anggota komunitas dan menggunakan lambang bunyi yang bersifat arbiter, serta mempunyai kesepakatan yang bermakna.[2]

Pemerolehan bahasa kedua dapat diperoleh secara terpimpin maksudnya pemerolehan disini diajarkan kepada pembelajar dengan menyajikan materi yang sudah di cerminkan yakni tanpa latihan yang terlalu ketat dan kesalahan pihak pembelajar dan juga dapat di peroleh secara alamiah atau spontan. dalam pemerolehan disini pemerolehan Bahasa kedua yang terjadi dalam komunikasi sehari hari bebas dari pengajaran atau pimpinan guru. Pemerolehan seperti ini tidak ada keseragaman dalam caranya sebab individu memperoleh Bahasa kedua dengan cara masing-masing.

Telah lama para ahli pengajaran bahasa kedua percaya bahwa bahasa pertama berpengaruh terhadap proses penguasaan bahasa kedua Karena secara tidak sadar peserta didik melakukan transfer atau memindahkan unsur-unsur  bahasa pertama ke dalam struktur bahasa kedua dengan kejadian tersebut terjadilah pergantian struktur dari kode-kode bahasa dari bahasa pertama gerhadap bahasa kedua yang telah di gunakannya.

Bahasa kedua adalah bahasa yang dipakai dan digunakan oleh seorang anak ketika mereka telah memperoleh bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa anak maupun bahasa yang diperoleh dewasa adalah suatu proses bertahap bagi anak atau dewasa untuk memperoleh bahasa kedua mereka baik dalam bentuk ragam lisan maupun ragam bahasa tulis.[3]

Menurut Ramlan morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.[4]

Salah satu bidang morfologi yang menarik untuk di kaji pada bidang bahasa Indonesia yaitu proses morfofonemik. Proses ini merupakan sebuah morfem yang terjadi akibat pertemuan suatu morfem dengan morfem lain.[5] Dalam bidang bahasa Indonesia proses ini terdapat tiga hal penting, diantaranya proses perubahan fonem, proses penambahan fonem, dan proses hilangnya fonem. Proses perubahan fonem merupakan berubahnya suatu fonem pada morfem akibat bertemu dengan morfem lain. Contoh, morfem meng-dan peng dengan bentuk dasarnya. Kedua morfem itu berubah menjadi /m, n,/ sehingga morfem meng- menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-. Sedangkan morfem peng- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan peng-. Proses penambahan fonem adalah penambahan fonem morfem sebagai akibat pertemuan suatu morfem dengan morfem lain. Misalnya, morfem meN- dengan bentuk dasar suatu suku. Fonem tambahannya adalah /g/ sehingga menjadi meng. Proses hilangnya fonem adalah hilangnya sebuah fonem akibat pertemuan suatu morfem dengan morfem lain. Misalnya, hilangnya fonem /N/ pada men dengan bentuk dasar yang berawal dari fonem /l, r  y, w/, dan nasal.[6]

Dengan ini dapat dikatakan morfofonemik merupakan peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem lain. Proses morfofonemik dalam bahasa terjadi karena pertemuan morfem dasar dengan afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Peristiwa ini dapat dilihat pada prefiks me- dalam proses afiksasi akan berubah menjadi mem-, meny-, menge-, atau tetap me-. Menurut aturan fonologis tertentu. Hal demikian diketahui dengan adanya hubungan yang erat antara morfologi dengan fonologi sehingga diperlihatkan ketika fonologi dapat memecahkan persoalan morfologi. Karena morfofonemik ini merupakan peristiwa morfologis yang tidak dapat dipecahkan tanpa adanya bantuan fonologi.

Bahasa kedua bergantung pada sering tidaknya orang menggunakan bahasa kedua tersebut. Penguasaannya pada kedua bahasa itu sedikit banyak akan berpengaruh pada dirinya pada saat ia berbicara. Kelancarannya bertutur dalam tiap-tiap bahasa menentukan kesiapan untuk memakai bahasa-bahasa yang dikuasainya secara bergantian.[7] Salah satu contohnya ialah pada saat ada acara “kompolan keagamaan” yang sudah menjadi tradisi di wilayah Madura terutama di daerah pedesaan. Penguasaan bahasa kedua jelas harus diperlukan dalam adanya interaksi tersebut.

Orang Madura termasuk kategori suku bangsa Jawa juga, meskipun agak berbeda dengan suku bangsa Jawa lainnya. Logat daerah menjadi ciri khas orang Madura yang mudah dikenali oleh suku bangsa lainnya. Orang Madura juga tidak mengenal penggunaan tingkatan bahasa sebagaimana yang dipakai oleh suku bangsa Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Aspek penggunaan bahasa inilah yang digunakan secara mudah oleh para ahli Antropologi sebagai indikator untuk menentukan kharakteristik (khas dan unik) suatu suku bangsa tertentu. Budaya  priyayi juga tidak dikenal oleh orang Madura, sebab pada masa lampau di wilayah Madura tidak banyak berkembang kerajaan-kerajaan seperti di kedua pusat budaya Jawa tersebut di atas. Di wilayah Madura, hanya Sumenep yang pernah berkembang kerajaan meskipun hanya bersifat lokal.[8]

Masayarakat Karduluk merupakan masyarakat yang mayoritas menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa pertamanya tetapi dalam pengucapan bahasa kedua bahasa yang mereka pakai masih terpengaruh oleh bahasa pertamanya, dalam menggunakan bahasa kedua masyarakat Karduluk tersebut masih belum menguasai atau belum memahami sistem bahasa target yang di gunakan. Sehingga pengaruh Bahasa pertama terhadap Bahasa kedua sangat terpapar jelas saat penutur menggunakan Bahasa kedua, dari segi itulah akan muncul beberapa proses morfofonemik bahasa kedua dalam berbahasa.

Acara kompolan malam Kamis merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat di Desa Karduluk. Kompolan merupakan bagian tradisi keagamaan yang diisi dengan aktivitas spiritualitas dan ritualitas keagamaan. Aktivitas kompolan ini menjadi media penting bagi transformasi nilai-nilai agama di masyarakat.[9] Aktivitas ini berkembang pesat dan mengakar kuat pada masyarakat Madura, terutama di daerah pedesaan. Sebagai bagian dari realitas sosial keagamaan kompolan pada masyarakat Madura dapat menjadi bagian penting dari legitimasi, justifikasi dan ideologisasi eksistensi keberagamaan mereka.

penelitian ini lebih memfokuskan pada kajian morfologi pada perubahan fonem dan pengurangan (penghilangan) fonem yang terdapat pada morfofonemik bahasa kedua yakni bahasa Indonesia yang digunakan masyarakat Karduluk. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul “Proses Morfofonemik Bahasa Kedua Orang Madura  Pada Acara Kompolan Malam Kamis di Desa Karduluk”. Karena banyaknya penggunaan morfofonemik yang dapat dianalisis proses pembentukannya.

B.     Fokus Penelitian

Berdasarkan konteks penelitian atau permasalahan yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui fokus penelitian sebagai berikut:

1.      Bagaimanakah bentuk  perubahan fonem pada proses morfofonemik bahasa kedua Orang Madura dalam Acara Kompolan malam Kamis di Desa Karduluk?

2.      Bagaimanakah bentuk penghilangan fonem pada proses morfofonemik bahasa kedua Orang Madura dalam Acara Kompolan malam Kamis di Desa Karduluk?

 

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka peneliti menemukan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1.      Mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk perubahan fonem pada  proses morfofonemik bahasa kedua orang Madura dalam  Acara  Kompolan Malam Kamis di Desa Karduluk.

2.      Mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk penghilangan fonem pada  proses morfofonemik bahasa kedua orang Madura dalam  Acara  Kompolan Malam Kamis di Desa Karduluk.

D.    Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teroritis maupun praktis. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut.

1.      Manfaat Teoretis

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan tentang proses morfofonemik dalam kajian morfologi pada Acara Kompolan Malam Kamis di Desa Karduluk.

2.      Manfaat Praktis

a.       Bagi peneliti

Dapat mengetahui proses morfofonemik bahasa kedua dalam acara Kompolan Malam Kamis di Desa Karduluk

b.      Bagi masyarakat

Masyarakat dapat meminimalisasi proses morfofonemik bahasa kedua dalam acara Kompolan Malam Kamis di Desa Karduluk

c.       Bagi Institut Agama Islam Madura

dengan hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan bahan atau referensi bagi penelitian sejenis sehingga bisa lebih di sempurnakan lagi.

E.     Definisi Istilah

Demi menyelaraskan pemahaman dan persepsi mengenai konteks permasalahan yang terkandung dalam penelitian ini, perlu adanya definisi istilah agar menghindari kekaburan makna diantara pembaca dan peneliti. Berikut definisi istilah dalam penelitian ini, yaitu:

1.      Morfofonemik

Morfofonemik adalah proses yang terjadi pada suatu morfem akibat pertemuan satu morfem dengan morfem lain


 

2.      Bahasa Kedua

Bahasa kedua adalah bahasa yang dipakai dan digunakan oleh seorang anak ketika mereka telah memperoleh bahasa pertama mereka.

3.      Orang Madura

Orang Madura merupakan kategori suku bangsa Jawa juga, meskipun agak berbeda dengan suku bangsa Jawa lainnya. Logat daerah menjadi ciri khas orang Madura yang mudah dikenali oleh suku bangsa lainnya. Orang Madura juga tidak mengenal penggunaan tingkatan bahasa sebagaimana yang dipakai oleh suku bangsa Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta.

4.      Kompolan malam kamis

Kompolan malam kamis merupakan bagian tradisi keagamaan yang diisi dengan aktivitas spiritualitas dan ritualitas keagamaan. Aktivitas kompolan ini menjadi media penting bagi transformasi nilai-nilai agama di masyarakat.

 

F.     Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu oleh Hartina dengan Judul “penelitian Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Palampang Kabupaten Sumbawa”. Pada penelitian tersebut lebih memfokuskan pada kajian morfosintek, yang artinya peneliti lebih mengutamakan pada bentuk kata yang digunakan dan juga struktur kalimat dalam bahasa yang digunakan oleh guru pengajar di SMAN 1 Palampang.

Penelitian terdahulu yang kedua merupakan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yakub dengan judul penelitian “Kesalahan Berbahasa Bidang Morfologi Pada Mading di Universitas Muhammadiyah Surakarta”. Pada penelitian ini lebih memfokuskan pada diksi atau pemilihan kata yang tepat dalam sebuah mading di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Penelitian terdahulu yang ketiga merupakan penelitian yang dilakukan oleh Ulfa dengan judul penelitian “Proses Morfofonemik dalam Surat Kabar Harian Fajar”. Pada penelitian ini lebih memfokuskan pada proses pembentukannya.

Persamaan antara penelitian terdahulu di atas dengan penelitian ini yaitu sama-sama menganalisis tentang proses morfofonemik yang sering terjadi pada lingkungan masyarakat. Sedangkan perbedaannya terletak pada fokus dan metode penelitian yang di pakai oleh masing-masing peneliti.




[1] Oscar Rusmaji, aspek-aspek linguistic, (Surabaya: Penerbit IKIP Malang, 1995), hlm. 1-2

[2] Yendra, mengenal ilmu bahasa (Yogyakarta: deepublish, 2018), hlm 2.

[3] Emy Sudarwaty dkk, Pengantar Psikolinguistik. (Malang: Universitas Brawijaya Press,2017),hlm.53

[4] Oscar Rusmaji, aspek-aspek linguistic, (Surabaya: Penerbit IKIP Malang, 1995), hlm. 71

[5] Oscar Rusmaji, aspek-aspek linguistic, (Surabaya: Penerbit IKIP Malang, 1995), hlm. 58

[6] Ulfa Eliyanti, “proses morfofonemik dalam surat kabar harian fajar” (skripsi, Universitas Muhammadiyaah Makassar, Makassar,  2017),  2.

[7] Henry Guntur Tarigan, Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa, (Bandung: Angkasa,2015),hal.45

[8] Totok Rochana, Orang Madura Suatu Tinjauan Antropologis,Universitas Negeri Semarang, 2017

[9] Syafiqurrahman, Syafiqurrahman. "Tipologi Tradisi Kompolan Di Kecamatan Lenteng." Tafhim Al-'Ilmi 8.1 (2016).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak